Reading time: 1 – 2 minutes
ANAK sulungku, Mutiara Relung Sukma, tahun ini lulus sekolah dasar (SD) dan harus daftar ke sekolah menengah pertama (SMP). Dia pilih daftar ke sekolah negeri. Pilihan pertama SMP 8 (rayon seberang), pilihan kedua SMP 29 (satu rayon). Sebagai bapak, aku manut-manut saja. Sebagai bapak, aku lepas dia berjuang dengan tenaga dan kekuatan sendiri. Sebagai bapak, aku tak berbuat apa-apa (bahkan untuk sekadar bingung atau takut Tia tak diterima di sekolah negeri). Padahal, di kantor dan lingkungan tempat tinggal, para orang tua kelabakan ke sana kemari, “berusaha keras” agar anak mereka diterima di sekolah impian. Lama-lama, terus terang, aku bingung karena kenapa aku kok tidak bingung.
Aku antar Tia daftar. Aku antar Tia tes. Aku antar Tia lihat pengumuman tanggal 13 Juli yang tertunda berjam-jam, dari pagi hingga malam, itu. Lalu aku temani dia mencermati daftar nama. Di SMP 8, tak ada. Di SMP 29 begitu juga. Kukabari istriku dan di ujung telepon sana dia bilang, “Ya sudah, pulang. Besok daftar ke SMP Muhammadiyah.” Malam itu, sekitar pukul 21.30, kami pulang dalam bungkam, kecuali Biru yang ngoceh melulu. Dia tak tahu, kakaknya sedang sedih bukan main. Dia tak tahu. Read the rest of this entry »