Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

Menggambar tomat

Posted by admin On March - 13 - 2007  Email This Post Email This Post    | 

This post has already been read 3620 times!

Kalau seorang Phd mengenai tomat, diminta menggambar tomat, tentu hasilnya akan berbeda dari seorang anak SD yang juga diminta untuk menggambar tomat. Tentunya sang Phd akan merasa ‘tersinggung’ apabila ‘hanya’ diminta untuk menggambar tomat. Ia akan bisa menjelaskan tomat itu apa, gambar tomat yang jenis apa, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, permintaannya hanya untuk menggambar tomat. Menggambar. Bukan menjelaskan.

Karena anak SD tidak akan mampu menjelaskan tomat. Apalagi dituntut untuk memiliki pengetahuan setaraf Phd mengenai tomat. Anak SD tidak akan dapat mempunyai pengertian yang sama mengenai tomat, dibanding seorang Phd. Menurut anak SD, si Phd lah yang salah, karena tidak mau menggambar tomat. Menurut anak SD, si Phd lah yang tidak mengerti tomat. Menurut anak SD, si Phd lah yang bodoh dan tidak memiliki pengetahuan mengenai tomat.

Sang Phd pun akan merasakan hal yang sama. Seorang Phd tidak akan dapat mempunyai pengertian yang sama mengenai tomat, dibanding seorang anak SD. Menurut sang Phd, si anak SD lah yang salah, karena hanya mau menggambar tomat. Menurut sang Phd, si anak SD lah yang tidak mengerti tomat. Menurut sang Phd, si anak SD lah yang bodoh dan tidak memiliki pengetahuan mengenai tomat.

Siapa yang benar?……….. tidak ada.
Siapa yang salah?……….. tidak ada.

Yang ada hanyalah pendapat.

Akan tetapi, supaya Phd dan anak SD bisa ‘duduk’ bersama, hanya ada satu pihak yang mungkin untuk mengalah. Sang Phd lah yang harus mengalah. Sang Phd lah yang harus mengerti cara pandang anak SD. Karena sang Phd tidak akan mungkin menuntut anak SD untuk memiliki pengertian yang sama seperti dia. Sang Phd tidak mungkin menuntut seorang anak SD untuk memiliki pengetahuan mengenai tomat, seperti yang telah dia miliki.

Seorang Phd harus mengalah, untuk hanya menggambar tomat. Hanya menggambar tomat. tidak lebih. Yang seorang Phd bisa lakukan adalah menggambar tomat yang terbaik menurut dia. Warna tomatnya harus benar hijau dan merahnya. Bentuknya harus benar. Posisinya di kertas gambar pun harus tepat di tengah.

Inilah yang harus dan bisa dilakukan oleh seorang Phd. Sampai sang anak SD memiliki pengetahuan seperti sang Phd. Baru, pada saat itu, sang Phd bisa membahas lebih lanjut mengenai tomat bersama anak SD.


I rather like one touch of her hand, one smell of her hair, one kiss of her lips, than living in eternity without it. (City of Angels, 1998)

Madia Krisnadi W.

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Leave a Reply