Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

Jonathan si Burung Camar

Posted by momoy On March - 11 - 2008  Email This Post Email This Post    | 

This post has already been read 3381 times!

Alkisah tentang seekor burung camar yang bernama ‘Jonathan’. Burung camar hidup dalam koloni yang besar di bebatuan karang di samudra. Dalam kehidupan koloni camar terdapat suatu rutinitas yang berjalan secara terus menerus setiap hari dari pagi hingga petang. Mereka setiap hari terbang rendah mengikuti buritan kapal nelayan dan mulai berebut ikan-ikan kecil atau remah-remah roti sisa para nelayan. Begitulah rutinitas yang dilakukan oleh koloni burung camar.

Dalam rutinitas itu, si Jonathan mulai berpikir adakah cara lain untuk mendapatkan makanan selain harus terbang rendah dan berebut setiap hari?. Jonathan mulai merasa jenuh dan ia mulai tidak mau ikut kawanan camar terbang rendah dan berebut makanan. Ia hanya berdiri diatas bebatuan sambil termenung. Ketika suatu hari ia melihat sebuah bayangan di depannya, iapun mendongakkan kepalanya dan melihat diatas langit yang tinggi seekor elang tengah terbang dengan gagah serta kecepatan yang tinggi. Jonathan pun mulai bertanya-tanya dalam hati, ‘Bisa nggak ya…saya seekor burung camar terbang tinggi serta cepat seperti seekor burung elang?’

Pertanyaan ini terus merasuk ke dalam pikiran Jonathan. Kemudian ia mulai belajar terbang tinggi sementara kawanan camar yang lain tetap menjalankan rutinitasnya. Setiap hari ia belajar terbang tinggi dan kecepatan. Ia terus belajar terbang dari pagi dan baru pulang pada petang hari. Sementara ia tidak memperdulikan kondisi tubuhnya yang semakin kurus karena tidak makan selama beberapa hari. Melihat kondisi Jonathan, ayah dan ibunya merasa kasihan dan menegur Jonathan, ” Nak, lihat tubuhmu yang kurus dan lemah, untuk apa kamu belajar terbang seperti elang, ingatlah nak bahwa kamu ini burung camar yang hanya bisa terbang rendah…besok kamu harus ikut bersama-sama untuk berebut makanan, pikirkan baik-baik Jonathan!” Sepanjang malam Jonathan tidak bisa tidur karena memikirkan kata-kata orang tuanya.

Keesokan harinya Jonathan memutuskan untuk menuruti saran orang tuanya dan mulai pergi bersama kawanan burung camar untuk berebut ikan-ikan kecil dan remah-remah roti sisa para nelayan serta pulang pada petang harinya. Selama seminggu penuh ia menjalankan rutinitas sebagai burung camar, dan pada suatu pagi Jonathan teringat kembali tentang burung elang. Jonathan hari itu kembali belajar terbang tinggi dan kecepatan seperti elang. Jonathan terus berlatih dan berlatih selama sebulan penuh dan pada saat ini ia telah mampu terbang tinggi dengan kecepatan seperti burung elang.

Pada suatu pagi tidak seperti biasa semua kawanan burung camar tidak pergi ke laut mencari ikan-ikan kecil. Mereka berkumpul dan membentuk lingkaran. Jonathan bingung melihat situasi tersebut, kemudian sang Tetua maju ke tengah lingkaran dan berkata, “Wahai warga burung camar semua, hari ini kita berkumpul bersama untuk menyaksikan dan melakukan pengadilan terhadap pelanggaran Norma dan Etika nenek moyang kita sebagai burung camar….(sang Tetua terdiam sejenak dan semua kawanan hening)….. Jonathan!… … Kamu maju ketengah lingkaran!.. …” pekik sang Tetua. Jonathan sangat kaget dan kebingungan, kemudian sang Tetua berkata kembali, “Kamu telah terbukti melanggar Norma dan Etika serta menyimpang dari kodrat kamu sebagai burung Camar!” Jonathan bertanya, “Apa salahku wahai Tetua?” …… “Apa salahmu?…. Kamu telah membuat malu bangsa burung camar, kamu tidak mau mengikuti cara burung camar yaitu terbang rendah dan berebut makanan setiap hari…..bahkan lebih memalukan lagi bahwa kamu mencoba belajar terbang seperti burung elang!” pekik sang Tetua. Kemudian si Jonathan berkata,” Apakah salah jika saya bisa terbang tinggi seperti burung elang dan terbang malam seperti burung hantu sehingga untuk memperoleh makanan saya tidak perlu berebut dengan teman-teman, saudara bahkan orang tuaku sendiri?, tidakkah itu lebih baik?” Suasana menjadi tegang dan terdengar teriakan “huuuuuuuu, buang saja dia, usir dari kawanan, mencemarkan nama baik burung camar…. memalukan… .. usir… usir… usir!” Sang Tetua pun berkata, ” Baiklah Jonathan, kalau kamu tetap memilih cara kamu dan tidak mau mengikuti Norma dan Etika kita sebagai burung camar maka kamu harus keluar dari sini….Pengawal, bawa si Jonathan ke tempat pembuangan!! !!!!!!”

Si Jonathan terlihat sedih dan ia memeluk ayah ibunya, mengucapkan selamat tinggal. Di tempat pengasingan ia terus mengasah keterampilannya terbang tinggi dengan kecepatan. Dan ternyata ia tidak sendiri, ia bertemu dengan beberapa ekor burung camar yang memiliki tujuan yang sama dengannya. Dengan terbang tinggi seperti elang ternyata ia menemukan berbagai jenis makanan seperti di padang rumput ia menemukan belalang, capung, ulat yang lezat untuk disantap. Dengan terbang malam seperti burung hantu ia bisa menikmati ikan-ikan kecil tanpa harus berebut dengan sesama burung camar. Jonathan sangat bahagia karena ia bisa makan apa yang burung camar lain tidak bisa makan karena mereka hanya bisa terbang rendah.

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Leave a Reply