Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

Archive for November, 2010

Tragedi Bukanlah Sebuah Hukuman

Posted by admin On November - 26 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 2 – 4 minutes

2 Korintus 1:6
Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 136; Yohanes 13; Ratapan 3

Mudah untuk bersukacita saat keadaan baik-baik saja, tetapi bagaimana jika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan keinginan Anda? Dibutuhkan iman yang besar untuk dapat tetap bersukacita dalam segala keadaan, bahkan yang terburuk sekalipun. Anda dapat tetap bersukacita dalam segala keadaan, jika Anda dapat melihat bahwa Allah tengah bekerja dalam segala keadaan untuk mendatangkan kebaikan. Orang-orang ini akan bersabar menghadapi badai, dan menantikan pelangi Tuhan setelah angin ribut berlalu.

Hal inilah yang dialami olah William Moon, seorang pria cemerlang dari Inggris yang sedang menikmati masa jayanya. Baginya terbentang masa depan yang cerah, hingga sebuah kecelakaan ia alami. William kehilangan penglihatannya secara total, dia tidak bisa lagi melihat masa depannya. Ia sempat merasa putus asa, “Apa gunanya segala kemampuanku saat ini setelah aku tersekap dalam kamarku dan seluruh dunia seakan-akan tertutup bagiku?”

Namun saat ia terkurung di dalam kamarnya itu, ia mulai sadar bahwa Allah pasti memulai maksud atas apa yang ia alami. Karena ia telah menjadi buta, William mulai mengembangkan sistem unik untuk mengenali abjad untuk menolong orang lain yang mengalami keadaan yang sama dengan dirinya. Sistem ini dengan segera di terima di beberapa negara dalam berbagai bahasa. Bahkan lebih dari empat juta orang buta dapat membaca Alkitab karenanya. Tanpa di sadari William Moon sudah menjadi “penginjil” dengan penemuannya itu. Karyanya telah membawa banyak orang buta menemukan Yesus dalam hidup mereka. Apa yang terlihat sebagai bencana, jika Anda mengijinkan Allah bekerja dalam hidup Anda maka hal itu dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

Bagaimana respon Anda terhadap pencobaan yang Anda alami? Apakah Anda tenggelam dalam kekecewaan dan mengasihani diri atau memilih bangkit dan mengijinkan Tuhan mengubah tragedi yang Anda alami menjadi berkat? Semua pilihan itu ada di tangan itu.

Tidak ada hal buruk dalam hidup ini jika Anda mengijinkan Tuhan berkarya dalam hidup Anda.

Renungan terkait
* Human beings not human doings
* Barsyukurlah
* Andai bisa memilih
* Bangkit lanjutkan hidup Anda
* Sesuatu yang indah


Making Excuses (1 ): Kisah Adam dan Hawa

Posted by admin On November - 24 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 3 – 4 minutes

Ayat bacaan: Kejadian 3:13
====================
“Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

making excusesSeberapa besar kita mampu berbesar hati mengakui kesalahan kita? Banyak orang sulit melakukan itu. Meski dalam keadaan terdesak dan jelas-jelas salah sekalipun kebanyakan orang akan tetap berusaha mencari alasan, syukur-syukur bisa menjadi pembenaran, atau setidaknya mengurangi beban kesalahan. Betapa kreatifnya orang ketika menciptakan berbagai alasan dalam pikirannya. Mulai dari alasan klasik seperti kurang sehat, mobil mogok, macet hingga yang jauh lebih kreatif dari itu. Tidakkah anda pernah heran melihat anak-anak kecil saja sudah seperti terlatih untuk mencari alasan dan berbohong padahal tidak ada yang mengajarkan mereka untuk itu? Mungkin kita pun pernah atau masih melakukannya hingga hari ini atau pada waktu-waktu tertentu. Mengakui kesalahan secara tulus tanpa alasan tidaklah gampang, karena kita harus melawan ego, harga diri, wibawa dan lain-lain, bahkan juga harus siap menerima konsekuensi akibat kesalahan kita. Berat memang, dan hal itu sudah ditunjukkan sejak jaman dahulu kala, bahkan pada saat pertama kali manusia jatuh ke dalam dosa.

Ketika Hawa tergiur dengan buah dari pohon pengetahuan tentang baik dan jahat yang terletak di tengah-tengah taman Eden dan kemudian melanggar larangan Allah, di saat itulah kejatuhan manusia ke dalam dosa yang konsekuensinya masih kita rasakan hingga hari ini. Memang benar, adalah ular yang mempengaruhi Hawa untuk memakan buah dari pohon itu, tetapi keputusan apakah mau menuruti Tuhan atau ular ada di tangan Hawa. Hawa memutuskan untuk mendengar ular, dan seterusnya berbagi kepada Adam. Lagi-lagi keputusan ada di tangan Adam apakah ia mau mematuhi Tuhan atau melanggarnya dengan mengikuti kesalahan Hawa. Adam memilih untuk menuruti Hawa. Maka jatuhlah manusia ke dalam dosa untuk pertama kali. Tuhan pun marah menegur Adam. Apa jawaban Adam? “Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12). Bukan meminta maaf, tetapi dengan segera melemparkan kesalahan kepada Hawa. Lantas Tuhan pun menegur Hawa. Tetapi apa jawab Hawa? “Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” (ay 13b). Lihatlah estafet melempar kesalahan  yang terjadi pada waktu itu. Dan marahlah Tuhan. Tidak saja ular yang dihukum berat, tetapi Adam dan Hawa pun dijatuhi hukuman berat. Wanita berusah payah mengandung penuh kesakitan, sementara pria harus bersusah payah banting tulang dalam mencari nafkah seumur hidupnya. Semua ini berawal dari pelanggaran terhadap larangan Tuhan dan keengganan untuk mengakui kesalahan secara tulus. Kapan manusia mulai belajar untuk mencari alasan? Dari kisah awal kejatuhan manusia ini kita bisa melihat asal mulanya, yaitu sejak dosa mulai menguasai manusia.

Apa yang dilakukan Adam dan Hawa pada saat perbuatan keliru mereka diketahui Tuhan sungguh berakibat fatal. Dari sanalah dosa kemudian menyeruak masuk menguasai hidup manusia dari masa ke masa hingga hari ini. Adalah kasih Tuhan yang luar biasa besar bagi kita yang akhirnya menyelesaikannya lewat Yesus Kristus. “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” (Ibrani 9:28). Tanpa Yesus niscaya manusia akan terus bergelimang dosa dan kehilangan peluangnya akan keselamatan kekal. Puji Tuhan dan bersyukurlah untuk itu. Saya akan memberikan sebuah contoh lagi besok mengenai “making excuses” atau mencari alasan atas sebuah kesalahan yang dilakukan.

Belajarlah mengakui kesalahan dengan tulus tanpa mencari alasan sebagai pembenaran

 Follow us on twitter: http://twitter.com/henlia

Gaya Hidup Sehat di Ajang Internasional

Posted by admin On November - 18 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 3 – 4 minutes

JAKARTA, KOMPAS.com – Hidup sehat sangat diidam-idamkan setiap orang, baik pria atau perempuan, tua atau muda, warga negara Indonesia ataupun warga negara di belahan dunia lainnya. Tak ada yang menginginkan sakit, sehat sekarang menjadi mode dan tren. Kampanye hidup sehat banyak disuarakan berbagai pihak. Berawal dari kampanye nasional, lantas ide ini menginspirasi Nutrifood untuk menyelenggarakan ajang Mister International 2010 di Jakarta setelah menyisihkan negara lainnya.

Menurut Christian Widi Nugraha, Brand Manager L-Men, penyelenggaraan Mister International bertujuan mengkampanyekan gaya hidup sehat bernutrisi. “Kami ingin memotivasi para pria Indonesia untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan penampilan,” kata Widi.

Bertemakan Transformation, L-Men ingin menginspirasi para pria Indonesia untuk melakukan perubahan dalam hidup menjadi lebih baik, terutama pola hidup sehat. Terbukti, ajang Mister International 2010 mendapat sambutan positif. Mereka pun datang ke Indonesia. Sekitar 40 peserta dari berbagai negara yang umumnya berprofesi sebagai model ini antusias berpartisipasi. Tahun ini merupakan tahun kelima ajang Mister International digelar oleh Mister Singapore Organization.

Bagi Widi, acara ini memiliki makna ganda. Pertama mengkampanyekan gaya hidup sehat ke dunia internasional. Kedua, memajukan pariwisata Indonesia. Selama pageant period, para peserta kemudian diajak mengunjungi berbagai obyek wisata di Jakarta, Bandung dan Bali. Di Jakarta mereka diantaranya mengunjungi Museum Gajah. Di Bandung, mereka diajak merasakan indahnya suara musik tradisional angklung Mang Udjo dan berlatih silat. Di Bali pun mereka dihibur oleh beragam tarian dan bertandang ke tempat-tempat wisata, seperti pantai Dreamland, Tanjung Benoa, arung jeram di Sungai Ayung, Bali Zoo, dan Bali Classic Center.

“Cuaca di Bali tak beda jauh dengan di Namibia,” kata Barnabas Hangey Weyulu (27), peserta dari Namibia ketika asyik menikmati keindahan pemandangan di Bali Classic Center, Ubud, Minggu (14/11/2010).

Selama empat hari berada Bali, selain dipadati dengan berbagai pemotretan, agar tidak jenuh mereka banyak belajar soal hidup, kebudayaan dan masyarakat setempat. Saat memasuki Bali Classic Center di Ubud, Gianyar, mereka terkagum-kagum dengan tari selamat datang yang disuguhkan. Para peserta begitu antusias mendengarkan penjelasan soal kehidupan masyarakat Bali sehari-hari, bersatu dengan alam sekitar. Yang paling mereka sukai adalah berlatih tari kecak dan berbaur bersama seniman Bali lainnya.

Thomas Sebastian (25), peserta asal Indonesia sangat menikmati keindahan Pulau Dewata. Pria yang lahir di Bandung, 3 Januari 1985 ini mewakili Indonesia dalam ajang Mister International. Dengan tinggi 181 cm dan berat 74 kilogram, Thomas tentu menyandang beban berat karena sebagai tuan rumah, dia pasti diharapkan muncul sebagai pemenang.

Namun siapa sangka operasional manager di sebuah perusahaan tekstil ini dulunya memiliki bobot 98 kilogram. “Perlu kerja keras menurunkan berat badan seperti sekarang,” ujarnya disela-sela sesi pemotretan di pantai Dreamland, Pecatu. Tak heran untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit, penggemar musik dan biliar ini rutin ke gym 4 kali seminggu. “Selama 2 jam saya habiskan di gym,” sambung Thomas.

Surfing

Namanya sesi pemotretan, sudah pasti diperlukan partisipasi, kedisiplinan, keseriusan para peserta. Untuk itu berkali-kali pengarah gaya berteriak-teriak melalui megapon agar seluruh peserta konsentrasi penuh saat pengambilan gambar di pantai Dreamland, Pecatu, dimana matahari sedang bersinar terik. Ternyata deburan ombak di pantai Dreamland tak mampu membuat Tim Boulenger (25), peserta dari Australia berkonsentrasi.

Tim yang berdiri di barisan belakang sering kali mengalihkan pandangannya ke arah ombak yang datang bergulung-gulung ke pantai Dreamland itu. Pengarah gaya pun tak kenal lelah berteriak-teriak agar Tim melihat kamera. Begitu sesi pemotretan selesai, Tim lah yang paling dulu bergegas meninggalkan lokasi. Dia mengambil papan berselancar dan langsung merasakan deburan ombak pantai Dreamland. Wajar Tim kebelet ingin berselancar atau surfing, pasalnya dia berprofesi sebagai instruktur berselancar di Australia.

Setelah puas menikmati alam Bali, mereka kembali ke Jakarta untuk bersiap-siap mengikuti pemilihan Mister International pada 20 November 2010. Lantas apa saja yang menjadi penilaian para dewan juri? Alan Sim, President Mister Singapore Organization mengatakan penilaian dititikberatkan kepada penampilan fisik, fotogenitas, kepribadian, karakter yang menarik dan kemampuan berkomunikasi. Nah, siapa pemenangnya, kita tunggu.

Memberi Dengan Sukacita

Posted by admin On November - 18 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 2 – 4 minutes

2 Korintus 9:7

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 112; 1 Petrus 4; Yehezkiel 26-27

Mengapa Allah ingin kita memberi dengan sukacita dan tanpa paksaan bukannya sebuah kewajiban? Jawabannya sangat sederhana, karena Allah tidak butuh pemberian Anda. Allah adalah pemilik seluruh alam semesta ini, Dia tidak membutuhkan derma dari kita. Lagi pula, memberi kepada Tuhan bukan sebuah syarat agar kita dapat menerima sesuatu dari-Nya. Kita memberi karena kita telah menerima berkat dari Tuhan.

Ketika kita memberikan sebagian kecil dari harta yang kita telah terima, itu adalah bentuk ungkapan syukur. Seperti seorang anak kecil yang menerima hadiah dari orangtuanya, dia pasti akan mengungkapkan rasa terima kasihnya.

Memberi mengajarkan kita untuk bermurah hati dan tidak tamak yang merupakan karakter Ilahi. Tuhan ingin anak-anak-Nya bertumbuh menjadi serupa dengan-Nya. Memiliki karakter-karakter-Nya. Sama seperti Tuhan bersukacita saat Ia memberkati kita, demikian juga seharusnya kita ketika memberkati sesama kita.

Mari bersukacita bukan karena berkat yang akan Anda terima ketika memberi, namun bersukacitalah karena bisa menjadi berkat dengan memberi apa yang telah Anda terima.



Terus Belajar

Posted by admin On November - 17 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 4 – 6 minutes

Ayat bacaan: Titus 3:14
==================
“Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.”

terus belajarAdakah waktu bagi kita untuk berhenti belajar? Dalam mengikuti jenjang pendidikan mungkin saja ada masanya kita selesai dari tahapan formal. Tetapi dalam kehidupan tidak ada alasan sama sekali untuk berhenti belajar. Sejak bayi kita sudah belajar banyak hal. Belajar berjalan, belajar berbicara, lalu mungkin mulai belajar di sekolah dasar, mulai belajar naik sepeda, dan seterusnya. Kita terus belajar untuk menjadi orang yang lebih baik lagi baik dari orang tua, guru, dari keteladanan orang-orang lain, buku dan sebagainya. Sebagai seorang dosen sekalipun saya harus terus belajar, terutama dalam mengikuti perkembangan ilmu yang saya ajarkan. Tanpa terus melakukan update terhadap hal-hal yang baru maka yang saya ajarkan cepat atau lambat akan menjadi usang dan tidak lagi aplikatif terhadap kondisi terbaru saat ini. Saya tidak perlu jauh-jauh untuk mencari model mengenai semangat tidak pernah berhenti belajar ini, karena ayah saya sendiri masih mengambil kuliah tambahan di bidang berbeda di usianya yang sudah lebih setengah abad lebih satu dasawarsa yang lalu. Ia sudah berprofesi sebagai dokter sejak awal tahun 70 an, tetapi masih juga mengambil pendidikan di bidang hukum di usia tuanya untuk menunjang apa yang sudah ia geluti sejak awal. Semangat untuk tidak pernah berhenti belajar adalah cerminan dari orang yang dinamis, yang selalu ingin menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Alkitab berulang kali pula memberi anjuran agar kita jangan pernah berhenti belajar, baik dalam menjalani kehidupan di dunia maupun dalam hal rohani. Titus berpesan “Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.” (Titus 3:14). Untuk bisa lebih baik lagi melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik pun kita harus senantiasa belajar. Dan Titus mengatakan itu akan menghasilkan buah-buah yang manis dalam kehidupan kita. Berhenti belajar artinya berhenti berbuah. Jika diibaratkan sebuah pohon, apa yang akan dilakukan ketika pohon tidak lagi berbuah? Mungkin awalnya diberi pupuk dan sebagainya, tetapi jika tidak juga kunjung menghasilkan, maka pohon akan ditebang dan dibuang. Seperti itu pula kita. Dalam segala hal, kita harus senantiasa berusaha menjadi lebih baik, dan itu tidak akan bisa kita peroleh jika kita berhenti belajar.

Tidak ada alasan sama sekali bagi kita untuk berhenti belajar apalagi dengan keuntungan dilahirkan di jaman modern dimana ada banyak sekali sarana yang akan menunjang kemudahan untuk belajar. Dahulu saya sempat harus pergi ke perpustakaan terlebih dahulu untuk belajar tetapi sekarang dengan duduk di rumah kita bisa memanfaatkan internet untuk belajar mengenai apapun. Untuk merenungkan firman Tuhan siang dan malam pun demikian. Jika dahulu kita harus membeli sebuah Alkitab terlebih dahulu, sekarang berbagai aplikasi tersedia dengan sangat mudah dan gratis. Lewat internet kita bisa memperolehnya dengan cepat, bahkan tersedia pula banyak aplikasi untuk handphone jenis apapun. Jadi alangkah sayangnya jika kita yang hidup di jaman modern ini justru bermalas-malasan untuk belajar.

Salomo seorang yang sangat dipenuhi hikmat berkata baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.” (Amsal 1:5) Seseorang dikatakan bijak salah satunya bisa diukur dari kerinduan mereka untuk tidak menutup telinga melainkan rajin mendengar dan keseriusan mereka untuk terus menambah ilmu. Awal yang sangat baik untuk memulainya adalah dengan menerapkan takut akan Tuhan dalam kehidupan kita. “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. (ay 7). Hanya orang bodohlah yang menghina hikmat dan didikan, sebaliknya orang bijak akan selalu menghargainya dan terus mau mendengar serta terus belajar.

Dalam keadaan ditimpa masalah sekalipun kita seharusnya tidak berhenti belajar. Malah seringkali dalam masalah itu kita justru bisa belajar banyak. Memperoleh pelajaran berharga dan belajar secara langsung bagaimana kita harus menyikapi atau mengatasinya. Kita justru bisa menjadi lebih matang, lebih dewasa atau lebih bijaksana setelah mengalami masa-masa sulit. Dan itu sudah saya alami sendiri berkali-kali. Pemazmur berkata “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” (Mazmur 119:71). Keadaan sulit biasanya akan mampu membuat kita untuk tersadar kembali setelah melenceng sekian jauh dari jalan Tuhan. Ada banyak masa-masa sulit yang pernah saya alami, baik yang ringan maupun yang berat. Ketika mengalaminya tentu sakit, tetapi hari ini saya bersyukur bisa mengalami itu semua, dan bersyukur pula karena pada saat itu saya memilih untuk belajar dari keadaan sulit dan tidak membiarkan diri saya dipenuhi keluh kesah atau berputus asa meratapi hidup.

Belajar adalah sebuah proses yang sangat penting yang tidak boleh berhenti dalam keadaan apapun. Alkitab selalu dan akan terus mendorong kita untuk belajar lebih giat lagi, baik dalam kehidupan di dunia terlebih untuk lebih mengenal Tuhan dan mengetahui kehendak-kehendakNya dalam kehidupan kita. Terus belajar untuk berbuat baik, seperti yang dikatakan oleh Titus dalam ayat bacaan hari ini akan membuat kita bisa belajar lebih banyak lagi mengenai hukum kasih yang menjadi inti dasar Kekristenan. Baik dalam hal intelektual maupun spiritual, kita harus selalu bersedia membuka diri untuk belajar. Belajarlah dari segala hal, bahkan dari anak kecil sekalipun seperti apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 18:1-5. Jika ada di antara teman-teman yang merasa lelah untuk belajar dan memutuskan untuk tidak lagi melakukannya, ubahlah segera, karena sesungguhnya hidup akan berhenti jika kita memutuskan untuk berhenti belajar.

Tidak ada batas untuk belajar selama kesempatan masih ada

Follow us on twitter: http://twitter.com/henlia

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.