Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

Archive for November, 2010

Think Like a Champion

Posted by admin On November - 4 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 5 – 8 minutes

Ayat bacaan: Roma 8:37
===================
“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”

think like a championHari ini saya melihat sebuah buku karya Donald Trump berjudul “Think Like a Champion.” Saya tidak sempat membuka-buka halaman di dalamnya, tetapi saya percaya Trump berusaha mengajak kita untuk mengubah paradigma berpikir kita agar bisa mencapai sukses. Saya setuju dengan Trump. Betapa seringnya kita gagal justru sejak awal. Belum apa-apa kita sudah yakin kalah. Bagaimana mungkin kita berani melakukan sesuatu jika paradigma berpikir kita sudah seperti orang yang kalah? Untuk memiliki mental pemenang kita harus memulainya dari cara berpikir seperti layaknya seorang pemenang pula. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah bisa memulai apapun.

Mungkin banyak yang bertanya, bagaimana mereka bisa berpikir seperti seorang pemenang atau juara jika saya ini tidak ada apa-apanya? Jika sarjana bahkan yang S2 sekalipun masih banyak yang menganggur, apalagi saya yang hanya lulusan SMA? Ada banyak orang yang terjebak pada pola pemikiran seperti ini. Mereka hanya fokus kepada kekurangan mereka dan melupakan bahwa Tuhan telah menciptakan kita masing-masing dengan talenta dan keistimewaan tersendiri. Sudahkah kita sadar bahwa apa yang diberikan Tuhan kepada kita sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mulai melakukan sesuatu dan menuai sukses seperti yang direncanakan Allah sejak semula? Mungkin kita hanya tamat SMA, tetapi bukankah kita memiliki anggota tubuh yang berfungsi baik? Jika ada anggota tubuh kita yang ternyata cacat atau kurang sempurna, bukankah masih ada anggota-anggota tubuh lainnya yang kondisinya baik? Sudah terlalu banyak orang yang gagal mencapai impian mereka justru karena mereka memandang diri mereka sendiri jauh lebih rendah dari pandangan Tuhan yang sebenarnya tentang diri mereka. Kita selalu memfokuskan diri kepada kekurangan kita dan mengabaikan apa yang menjadi kelebihan atau keistimewaan kita.

Apa sebenarnya yang direncanakan Tuhan atas kita? Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi pecundang, orang-orang yang gagal. Tuhan tidak pernah merencanakan kita untuk memiliki mental yang mudah menyerah dan hidup tanpa semangat. Apa yang dicanangkan Tuhan justru sebaliknya. Alkitab menyebutkan begini “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37). Perhatikanlah bahwa kita seharusnya sadar bahwa kita bukan cuma sekedar pemenang, tetapi dikatakan lebih dari pemenang! Dalam bahasa Inggrisnya lebih dari pemenang disebutkan dengan “More than conquerors and gain surpassing victory, memperoleh kemenangan melewati batas yang kita harapkan. Dari mana kita bisa memperolehnya? Alkitab menyebutkan jelas, lewat Kristus yang telah mengasihi kita, through Him who loved us.

Selanjutnya mari kita lihat janji Tuhan lainnya. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun.” (Ulangan 28:13) Itu yang menjadi kerinduan Allah bagi kita. Menjadi kepala dan bukan ekor, tetap mengalami peningkatan dan bukan penurunan. Lihatlah kata yang dipakai adalah “TUHAN AKAN”, dan bukan “Tuhan bisa” atau “Tuhan mungkin berkenan”. Kata akan disana memberi jaminan kepastian bahwa Dia menginginkan itu untuk terjadi pada anak-anakNya, termasuk saya dan anda. Bagaimana caranya? sambungan ayat di atas memberitahukan cara untuk memperolehnya. “.. apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (ay 13-14).

Tuhan sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan kita. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20b). Atau tanamkan pula ayat ini dalam-dalam di benak kita. “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ulangan 31:8). Lihatlah bahwa untuk mencapai sebuah tingkatan “lebih dari pemenang”, “to gain a surpassing victory”, kita bukannya dibiarkan berjuang sendirian, tetapi Tuhan sendiri berjanji untuk senantiasa menyertai kita. Jangan lupa pula bahwa Roh Kudus telah dianugerahkan kepada orang-orang percaya. Kehadiran Roh Kudus akan membuat kita mampu melakukan hal-hal yang jauh lebih daripada apa yang kita pikirkan, melebihi apa yang kita anggap sebagai batas kesanggupan kita. Bagaimana jika kita masih juga takut? Bagaimana jika tetap menganggap bahwa kita bukan siapa-siapa, bahkan tidak ada orang yang memperhatikan keberadaan kita sekalipun? Lihatlah apa jawaban Tuhan akan hal ini. “Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:8-10).

Ayat di atas berkata jelas. Kita tidak boleh takut. Mengapa? Sebab Tuhan menyertai kita. Kita tidak boleh ragu, alias setengah yakin menang setengah lagi yakin kalah. Mengapa? Karena kita punya Allah yang memiliki kuasa di atas segalanya. Kita tidak pula perlu khawatir, karena Tuhan berjanji pula untuk meneguhkan dan menolong kita. Dia memegang kita dengan tangan kananNya dan hal itu akan mampu membawa kita masuk ke dalam sebuah kemenangan yang lebih dari apa yang kita pikir sanggup untuk kita peroleh. Dengan merenungkan semua ini, masih pantaskah kita menilai diri kita sendiri rendah? Masihkah kita harus terus hidup dengan pemikiran dan mental seperti orang yang gagal atau kalah? Berhati-hatilah agar kita jangan sampai menilai diri kita sendiri rendah dan tidak ada apa-apanya, karena Firman Tuhan mengingatkan kita  ““Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (dalam versi King James dikatakan“For as he thinketh in his heart, so is he.” atau dalam bahasa sederhana diartikan sebagai “we are what we think.”).  Sesungguhnya apa yang diberikan Tuhan sudah lebih dari cukup untuk kita olah dan pakai hingga mencapai sebuah kesuksesan besar. Kita harus mulai mengubah pola pikir kita terhadap diri sendiri sejak awal. Mulailah berpikir sebagai pemenang atau juara, karena itulah yang diinginkan Tuhan sejak awal bagi kita semua. Bukan ekor tetapi kepala, tidak menurun melainkan terus meningkat. Semua itu tidak akan bisa terlaksana tanpa dimulai dari pembenahan pola pikir kita. So, let us all start to think like a champion!

Bukan cuma pemenang, tetapi lebih dari pemenang, itulah yang dirindukan Tuhan untuk kita

Tukang Cukur

Posted by admin On November - 4 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 4 – 7 minutes

Ayat bacaan: Ibrani 11:6
=====================
“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”

Tuhan ada, tukang cukurSebuah email diforward teman kepada saya. Isinya bagus, merefleksikan bagaimana pemikiran banyak orang mengenai keberadaan dan kepedulian Tuhan. Kita bertemu dengan banyak orang yang skeptis mengenai hal ini. Ada yang tidak percaya sama sekali, ada yang ragu-ragu, ada yang percaya memang Tuhan ada tetapi tidak cukup peduli, ada pula yang berpikir bahwa perhatian Tuhan terlalu tinggi untuk diraih. Dahulu saya termasuk orang yang tidak peduli akan ada atau tidaknya Tuhan. Saya hanya percaya terhadap kerja keras dan usaha saya sendiri. Keberhasilan memang pernah saya raih, tapi umurnya tidaklah lama. Semua yang telah saya capai dan dapatkan akhirnya hilang tak berbekas. Di saat itulah saya mengalami jamahan Tuhan Yesus secara langsung. Dan hari ini saya tahu bahwa kasih Allah itu sungguh sangat besar adanya. Dia ada, Dia mengasihi kita, dan Dia peduli. Sangat peduli, sehingga Dia merelakan Yesus untuk turun menggantikan kita semua di atas kayu salib. Hari ini kita bisa hidup dengan sukacita, merasakan hadirat Allah yang begitu indah, mendapat jaminan keselamatan sepenuhnya, semua itu adalah bukti besarnya kasih Allah yang dianugerahkan lewat anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Mari kita lihat kisah seorang pelanggan dan tukang cukur seperti yang di email kepada saya.

Alkisah ada seorang pelanggan datang ke sebuah salon untuk mencukur rambutnya. Tukang cukur mulai bekerja dan mereka pun terlibat dalam perbincangan. Si tukang cukur berkata: “Saya tidak percaya Tuhan itu ada.”
Si Pelanggan kaget dan menjawab “Kenapa anda bilang begitu?”
“Begini, jika Tuhan ada, mengapa ada yang menderita? yang sakit? terlantar? melarat? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.” balas si tukang cukur.
Pelanggannya hanya diam, karena ia berpikir tidak ada gunana mendebat tanpa ada argumen yang kuat. Akhirnya si tukang cukur pun menyelesaikan tugasnya, dan pelanggan pun pergi meninggalkan salon.
Begitu keluar, ia melihat seorang gelandangan dengan rambut panjang, kotor dan tidak terurus. Melihat gelandangan itu, si pelanggan pun kembali masuk ke salon dan menemui tukang cukur tadi. Ia segera berkata: “Tahukah anda, sebenarnya tukang cukur itu tidak ada.” Tukang cukur pun kaget dan berkata “Bagaimana anda bisa berkata seperti itu? Bukankah saya baru saja mencukur rambut anda?”
Pelanggan itu menjawab: “Tidak. Tukang cukur memang tidak ada. Sebab jika ada, maka tidak akan ada orang dengan rambut acak-acakan, kotor, jorok, tidak terawat seperti gelandangan di luar itu.”
Tukang cukur itu tidak terima dan membalas: “Tetap saja tukang cukur itu ada! Jika ada orang seperti gelandangan itu, yang jorok dan tidak terawat, itu salah mereka sendiri. Mengapa mereka tidak datang kepada tukang cukur seperti saya untuk minta dicukur?”
Dan si pelanggan pun tersenyum dan mengatakan “Tepat sekali.”

That’s the point. Tuhan itu ada. Ingatkah anda bagaimana Tuhan sendiri menyatakan bahwa Dia ada lewat Musa kepada bangsa Israel? “Kata Allah, “Aku adalah AKU ADA.” (Keluaran 3:14 BIS) Dia jelas ada, dan itu bisa kita lihat dari segala sesuatu yang ada di sekeliling kita. All the wonderful creations around us, things that are even too wonderful, are the undisputed prove of God’s existance, including ourselves. Jika kita membaca rincian dalam Ayub 37 dan 38, kita akan melihat bagaimana peran Tuhan mengatur alam dengan segala kemegahannya. Daud pun mengatakan hal yang sama dalam Mazmur 104 nya yang terkenal. Itulah hasil perenungan Daud melihat segala keindahan yang ada di sekelilingnya. Dan Daud tahu Tuhan ada. Tidak hanya tahu, ia pun bahkan dekat dan mengalami banyak bukti kehebatan Tuhan yang nyata dalam hidupnya. Alangkah keterlaluannya kita yang telah melihat bukti nyata keberadaan Tuhan dalam setiap pandangan mata dan detak jantung kita tetapi masih juga meragukan Dia, yang telah begitu mengasihi kita.

Penulis Ibrani menyatakan “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6). Ya, kita memang memerlukan sebentuk iman yang memampukan kita untuk percaya bahwa Tuhan itu ada, dan Tuhan menyediakan kasih setia dan berkat-berkatNya yang melimpah kepada semua orang yang sungguh-sungguh mencari Dia, tanpa terkecuali. Tuhan Yesus menyatakan “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:7-8). Apa yang menjadi permasalahan bukanlah ada atau tidaknya Tuhan, karena Dia jelas ada, tetapi justru orang yang tidak mau datang kepadaNya, tidak mau mencariNya. Tuhan itu ada, dan segala solusi atas permasalahan kita pun ada padaNya. Siapa yang bisa merasakan keberadaan Tuhan dalam hidupnya adalah orang-orang yang mau datang kepadaNya dan meminta Tuhan untuk terlibat secara langsung dalam segala aspek kehidupan. Tuhan rindu untuk itu! Dia rindu untuk menyatakan keberadaanNya, dan membuktikan bagaimana indahnya hidup dalam penyertaanNya. “Allah memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.” (Mazmur 53:3). Oleh karena itu, datanglah kepadaNya hari ini juga dan alami langsung betapa Tuhan itu ada dan kasihNya tidak terbatas bagi kita.

Tuhan ada bagi setiap orang yang mencariNya

Seandainya Tuhan Tidak Menolong..

Posted by admin On November - 4 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 2 – 4 minutes

Daniel 3:16-18
Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 111; 1 Petrus 3; Yehezkiel 25, 29:1-16

Saya sangat menyukai kisah tiga pria yang imannya begitu bulat ini, bahkan mereka tidak tergoyahkan sekalipun di perhadapkan kepada kematian. Anda lihat pada ayat di atas, Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak tahu apakah Tuhan akan menyelamatkan mereka atau tidak. Tetapi ada dua hal yang mereka ketahui dengan pasti: Tuhan berdaulat atas segala sesuatunya dan mereka tidak bersedia menyembah Allah lain!

Anda tentu tahu cerita selanjutnya, Anda pasti tahu Tuhan menyelamatkan ketiga orang pria berani tersebut. Tetapi apa yang Anda pelajari dari iman yang dipertontonkan oleh tiga orang pria tersebut?

Kematian itu pasti. Jadi yang perlu Anda tanyakan bukan, “Bagaimana saya akan mati?” Tetapi pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah, “Bagaimana saya akan hidup?” Cara hidup kita menunjukkan siapa Allah yang kita percaya. Jadi, hiduplah sebagai pribadi-pribadi dewasa yang kuat. Tidak terus menjadi umat yang ke kanak-kanakan, yang marah kepada Tuhan ketika pertolongan Tuhan tidak datang seperti yang kita mau.

Mulai hari ini, mari kita belajar menjadi seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan berkata, “Tetapi seandainya Tuhan tidak menolong, kami tetap tidak akan melepaskan iman percaya kami.” Mari menjadi dewasa dalam iman kita.

Jangan pikirkan bagaimana akhir hidup Anda, namun pikirkan bagaimana Anda akan menjalani setiap detik kehidupan Anda. Itu adalah pola pikir seorang pengubah sejarah.

Renungan terkait…
* Tuhan menolong kamu karena dia mencintaimu
* Pendaki gunung
* No retreat
* Sabar dan tetap tenang
* Menang terhadap…


Membuat Allah Heran

Posted by admin On November - 4 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 4 – 6 minutes

Diambil dari khotbah Pdt. Samuel Duddy

Lukas 7:1-10: “Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka…… Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya. “Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”. (PB hal 78)

Membuat manusia heran akan kuasa Allah adalah hal yang biasa, namun membuat Allah heran adalah suatu hal yang luar biasa.

Yesus heran akan sikap perwira itu karena sikapnya yang merupakan sikap Kerajaan Allah. Ada dua jenis keheranan, yaitu yang negatif dan positif. Yang negatif adalah jika ada seseorang yang selalu datang beribadah ke gereja, namun orang ini tidak mengalami pembaharuan di dalam hidupnya, hatinya degil dan tidak taat perintah. Akibatnya orang-orang yang melihatnya menjadi heran atas kekerasan hatinya. Sedangkan keheranan yang positif adalah ketika seseorang sedang berada di dalam masalah dan tekanan, namun tetap beriman dan setia beribadah kepada Tuhan. Kita menjadi heran dan kagum akan ketekunannya mencari Tuhan.

Bagaimanakah kita dapat membuat Allah heran adalah:

1. Milikilah iman dan sikap hati yang mengasihi dan menghargai.
Lukas 7:2, “Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
Perwira tersebut tidak meremehkan budaknya, namun dia menghargainya dan mengasihinya, meskipun dia memiliki hak dan kesempatan untuk menindas, namun perwira ini tidak melakukannya.

Sebagai murid-murid Kristus kita harus perduli kepada orang yang tertindas dan miskin. Baca Amsal 19:17, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu”. Bandingkan Lukas 6:27, 35, agar kita mengasihi musuh dan berbuat baik kepada siapa pun tanpa mengharapkan balasan. Jangan hanya bersikap baik dan pilih kasih kepada orang-orang yang berpangkat dan terpandang saja, namun juga kepada pembantu, karyawan dan orang biasa.

2. Milikilah iman dan sikap hati yang mengasihi bangsa-bangsa dan jiwa-jiwa.
Ayat 5a: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita…”
Perwira Romawi ini mengasihi bangsa Yahudi, meskipun mereka berlainan suku bangsa dan bahkan merupakan bangsa jajahan dari bangsa Romawi.

Kalau kita mengasihi jiwa-jiwa dan bangsa lain, maka kita akan mengalami dampaknya yaitu damai sejahtera dan ketenangan akan dicurahkan atas bangsa kita. Lihat Yesaya 32: 15-17, “…Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram ….” Dan Yeremia 29:7 “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanm

3. Milikilah iman dan sikap hati untuk pekerjaan Tuhan.
Ayat 5b: “….dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.” Menjadi suka rela berkorban dan memberi untuk pekerjaan Tuhan. Jadikan apa yang kita miliki itu untuk menjadi berkat bagi kemuliaan nama Tuhan, sama seperti perwira Romawi itu, yang memiliki kuasa dan kekayaan.

4. Milikilah iman dan sikap hati yang percaya kepada firman Tuhan.
Ayat 7, 8: “Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, …”

Perwira itu tidak memiliki keraguan sedikit pun terhadap firman Tuhan, meskipun situasinya genting. Biasanya ketika berada dalam kondisi dan situasi yang sulit, orang-orang cenderung melupakan Tuhan karena tekanan masalahnya itu. Namun, sebagai orang percaya, hendaklah kita tetap mempercayai Tuhan, apa pun kondisi kita, sama seperti sikap perwira Romawi itu.

Renungan terkait…
* 7 hadiah terbaik
* Tentang hamba Tuhan
* Kuasa dalam ucapan Anda
* Kasih Bapa
* Masihkah perlu gengsi dalam hidup


Belajar Dari Anak Kecil

Posted by admin On November - 4 - 2010ADD COMMENTS

Reading time: 2 – 4 minutes

Lukas 18:16
Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 105; Yakobus 2; Yehezkiel 13-14

Karena beberapa alasan, anak-anak suka dengan tantangan. Mereka tidak takut dengan kesulitan, karena terkadang mereka tidak tahu apa arti “kesulitan.” Dengan pola pikir mereka yang sederhana, mereka tidak memperumit keadaan. Hal inilah yang perlu kita pelajari dari anak-anak, mereka memiliki kesederhanaan, bahkan dalam iman.

Sebagai contoh, ketika seorang anak dijanjikan oleh ayahnya besok ia akan dibelikan sepeda, dia percaya begitu saja dengan sepenuh hati. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam hatinya.

Kepercayaan yang sama ini mereka terapkan dalam segala aspek hidup mereka. Sehari-hari mereka menikmati keriangan, bermain dan tertawa. Bahkan saat mereka menemukan hal yang harus dilakukan namun tidak mereka sukai, mereka akan menemukan cara menyenangkan untuk menyelesaikan tugas itu.

Namun kita yang telah bertumbuh dewasa, seringkali kehilangan sukacita anak-anak itu. Kita dipusingkan dengan “kesulitan” karena kita menganggap semakin sulit suatu hal, maka semakin bernilai. Namun karenanya malah kita kehilangan kesederhanaan iman, sehingga kita sulit mempercayai Tuhan.

Saat ini mari kita datang kepada Tuhan seperti anak kecil, dengan iman yang sederhana dan kepercayaan yang penuh bahwa dalam segala perkara Bapa Sorgawi pasti menyertai dan menolong kita. Setelah itu, jalanilah hari Anda dengan sukacita dan kreativitas. Sesulit apapun keadaan yang Anda hadapi, temukan cara menyenangkan untuk menyelesaikannya.

Jangan kehilangan sukacita hanya karena kesulitan, jadilah seperti anak kecil yang selalu menemukan cara menyenangkan dalam mengatasi masalah.

Tidak ada kata tua untuk belajar, Belajarlah dari…
* Belajar dari kesalahan
* Belajar dari semut
* Belajar dari pensil
* Belajar dari ikan cot dan cat
* Belajar dari gempa dan kehancurannya


Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.