Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

MEMBALAS DENDAM

Posted by admin On January - 13 - 2011  Email This Post Email This Post    | 

This post has already been read 4190 times!

November 3, 2006

Getting Even

READ: Ephesians 4:25–5:1

Be kind to one another, tenderhearted, forgiving one another, even as God in Christ forgave you. —Ephesians 4:32

When we or someone we love has been hurt, thoughts of revenge may dominate our minds. But we won’t ever be able to “get even.” Dr. Lewis Smedes, a professor of theology, wrote extensively about forgiveness in Forgive and Forget, saying: “Revenge never evens the score, for alienated people never keep score of wrongs by the same mathematics. Forgiveness is the only way to stop the cycle of unfair pain turning in your memory.”

These insights help us understand why Paul wrote with urgency: “Let all bitterness, wrath, anger . . . be put away from you, with all malice. And be kind to one another, . . . forgiving one another, even as God in Christ forgave you” (Eph. 4:31-32). Paul knew that a spirit of forgiveness was essential for the Ephesians’ spiritual survival. His appeal was based on God’s forgiveness of them.

Smedes said that forgiveness is not forgetting, excusing, or smoothing things over. Instead, forgiving breaks the cycle of revenge and “creates a new possibility of fairness by releasing us from the unfair past. Forgiving is love’s toughest work, and love’s biggest risk. To forgive is to dance to the beat of God’s forgiving heart. It is to ride the crest of love’s strongest wave. To forgive is to set a prisoner free and discover that the prisoner was you.” —David C. McCasland

Jesus came our debt to pay,
Saved our soul in grace one day,
So in love we all should live,
Ready always to forgive. —Bosch

Revenge imprisons us; forgiveness sets us free.

Jumat, 3 November 2006

Bacaan Setahun : Yeremia 30-31; Filemon 1
Nats : Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Efesus 4:32)

MEMBALAS DENDAM
Bacaan : Efesus 4:25-5:1
Ketika kita atau seseorang yang kita kasihi dilukai, maka niat untuk membalas dendam akan mendominasi pikiran. Namun sebenarnya, kita tak pernah dapat melakukan pembalasan yang setimpal. Dr. Lewis Smedes, seorang profesor teologi, pernah menulis tentang pengampunan dalam buku Forgive and Forget. Ia berkata, “Karena tak bisa dihitung secara matematika, pembalasan dendam tak bisa menyamakan skor. Pengampunan adalah satu-satunya cara agar kepahitan hilang dari kenangan.”

Melalui perenungan di atas, kita dapat mengerti mengapa Paulus menulis: “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan … hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain … sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efesus 4:31, 32). Paulus menyadari bahwa semangat mengampuni sangat penting dalam perjuangan iman jemaat Efesus. Pendekatan yang digunakan Paulus didasarkan pada pengampunan Allah bagi mereka.

Smedes mengatakan pengampunan tidak berarti melupakan, memutuskan, atau membiarkannya berlalu. Sebaliknya, pengampunan berarti memutus lingkaran balas dendam dan “menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru yang adil” dengan melepaskan kita dari masa lalu yang tidak adil. Mengampuni merupakan karya kasih yang terberat dan berisiko tinggi. Mengampuni berarti menari mengikuti irama detak jantung Allah yang penuh ampunan. Itu seperti berada di puncak ombak kasih yang paling dasyat. Mengampuni berarti membebaskan seorang tawanan dan mendapati bahwa tawanan tersebut ternyata kita sendiri –DCM

PEMBALASAN DENDAM MEMENJARAKAN KITA
PENGAMPUNAN MEMBEBASKAN KITA

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Leave a Reply