Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

Ingin Cepat Kaya?

Posted by admin On June - 18 - 2011  Email This Post Email This Post    | 

This post has already been read 3625 times!

Ayat bacaan: Lukas 12:15
====================
“Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

ingin cepat kayaAda begitu banyak iklan yang menjanjikan kekayaan lewat segala cara. Menjual berbagai metode agar cepat kaya selalu laris di mata banyak orang, apalagi di jaman sekarang dimana segalanya serba sulit. Seminggu dapat sekian puluh juta, sehari langsung meraup dollar dan banyak lagi iming-iming yang akan membuat orang tergoda untuk mencobanya. Tidak ada orang yang mau hidup miskin. Kita bekerja dan berusaha agar bisa hidup layak, dan alangkah baiknya apabila kita juga berpikir untuk bisa mengumpulkan hasil jerih payah kita bukan untuk kita sendiri melainkan untuk memberi kepada orang-orang yang berkekurangan. Yang tidak baik adalah berorientasi kepada kekayaan, mendasarkan segala sesuatu kepada uang dan harta. Menghalalkan segala cara demi meraup untung sebesar-besarnya, kalau perlu mengorbankan orang lain, itulah yang salah.

Pada suatu kali ada seseorang yang saya rasa sangat keterlaluan bertanya kepada Yesus “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” (Lukas 12:13). Ini kelewatan. Ia bertemu dengan Yesus, ia punya kesempatan untuk mengenal Kristus secara langsung dari dekat, ia berkesempatan mengenalNya lebih dalam, tetapi lihatlah yang ia inginkan malah harta dan lebih banyak harta lagi. Kita mungkin bisa tertawa melihatnya, namun bukankah ini gambaran yang banyak kita lihat hari ini? Orang pergi ke gereja dan berdoa bukan lagi didasarkan kepada kerinduan untuk mengenal Yesus secara lebih dekat, tetapi karena membutuhkan sesuatu. Ingin cepat kaya, ingin usahanya yang bangkrut bisa selamat, ingin sukses dan sebagainya, bahkan banyak pula yang ke gereja karena ingin cepat dapat jodoh. Semua hanyalah demi kepentingan pribadi, dan itulah satu-satunya target yang ingin dicapai. Bagi mereka Tuhan tidak lebih dari “alat” yang harus memenuhi tuntutan mereka. Jika dalam waktu singkat tidak terjadi, maka mereka pun akan berpindah haluan sesegera mungkin.

Kembali kepada orang yang keterlaluan di atas, sungguh menarik melihat apa reaksi Yesus. Yesus menjawab “Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (ay 15). Hidup tidak pernah bisa sepenuhnya tergantung kepada kelimpahan harta. Kita melihat banyak orang kaya yang tidak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya, tidak sedikit pula yang mengalami kehancuran dalam keluarga mereka. Dan Yesus sudah mengingatkan hal itu sejak semula. Lalu Yesus pun memberikan perumpamaan tentang orang yang kayanya luar biasa. Begitu kayanya hingga ia tidak punya lagi cukup tempat untuk menyimpannya. Hasil tuaiannya berlimpah ruah sehingga ia harus bergegas mendirikan lumbung-lumbung yang lebih besar lagi. Orang itu lalu berpikir, “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (ay 19). Hal seperti ini sering menjadi dasar pemikiran banyak orang hingga hari ini. Kita mengira bahwa dengan banyaknya harta kita akan bisa bersenang-senang sepuasnya tanpa perlu berbuat apa-apa lagi. Tapi apa pandangan Tuhan akan hal ini? “Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (ay 20). Dan Yesus pun menutup perumpamaan ini dengan “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah. (ay 21).

Apa gunanya kekayaan di tempat tujuan kita selanjutnya? Tidak ada. Kita tidak bisa membawa semua harta kita ke surga dan berpikir bahwa uang itu akan berfungsi banyak untuk memberi lebih banyak fasilitas di banding orang lain yang lebih miskin. Kasarnya, uang tidak bisa dibawa mati. Alangkah sia-sianya jika kita berorientasi kepada kekayaan duniawi yang sifatnya hanya sementara saja lalu mengorbankan kesempatan untuk mengumpulkan harta di surga. Yesus pun memberikan peringatan penting akan hal itu. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19). Harta di bumi tidak akan pernah bisa seratus persen aman. Setiap saat semua itu berpotensi untuk lenyap dengan berbagai cara. Kita pun akan hidup ketakutan setiap saat kalau-kalau ada orang yang mencuri atau ada kejadian yang bisa melenyapkan semuanya itu. Kita akan sulit hidup tenang apalagi dipenuhi sukacita. Lalu dimana kita harus mengumpulkannya? Yesus melanjutkan “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (ay 20). Jika menjadi kaya di dunia berarti menimbun, di surga caranya justru terbalik, yaitu dengan menabur. Berbuat kebajikan, dipenuhi belas kasih dan tergerak untuk menolong sesama, semua itulah yang akan memampukan kita untuk mengumpulkan harta di surga, dimana tidak ada satu apapun yang bisa merusak atau mencurinya.

Jangan sampai kita terus berfokus untuk menimbun kekayaan dan melupakan apa yang menjadi tugas kita di dunia ini, mengabaikan peran yang diberikan Tuhan kepada setiap anak-anakNya untuk menjadi terang dan garam. Kita mungkin bisa berdalih bahwa kita hanya khawatir tidak akan dapat makan dan minum secukupnya atau sepuasnya, tetapi lihatlah apa kata Yesus mengenai hal ini. “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” (ay 31-32). Tanpa anda minta pun Tuhan selalu sanggup memenuhi semua kebutuhan penting anda. Itu sudah menjadi janji Tuhan. Apa yang harus kita lakukan adalah ini: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (ay 33).

Seberapa banyakpun harta yang sanggup kita kumpulkan tidak akan pernah menjamin kebahagiaan hidup kita. Tanyakan hal ini kepada orang terkaya yang pernah ada di muka bumi ini, Salomo, maka ia pasti menangis dan menceritakan bagaimana semua kekayaannya yang begitu luar biasa melimpah tidak bisa memberi kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Di mata dunia mungkin orang-orang yang kaya bisa mendapatkan banyak fasilitas dan kemudahan, bisa mempengaruhi banyak orang dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya, tetapi di mata Tuhan mreka tidaklah lebih dari orang yang bodoh. Bukan karena ia kaya di dunia tetapi karena ia tidak kaya di hadapan Allah, fokus kepada sisi yang salah. Dalam hidup ini kita akan banyak mendengar berbagai metode agar bisa cepat menjadi kaya. Tetapi ingatlah bahwa Yesus sudah menyampaikan tentang apa yang penting untuk menjadi fokus kita sebenarnya. Bukan soal kekayaan harta atau uang, tetapi soal kekayaan hubungan kita dengan Dia secara pribadi, dan bagaimana sukacita berlimpah yang akan kita peroleh dari hubungan itu sanggup mengubah karakter ketamakan kita menjadi orang yang penuh kasih dan murah hati.

Belajarlah untuk menjadi kaya di hadapan Allah dan bukan di dunia

Follow us on twitter: http://twitter.com/henlia

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Leave a Reply