Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

Kayu Basah

Posted by admin On August - 23 - 2011  Email This Post Email This Post    | 

This post has already been read 5350 times!

Pagi itu di sebuah ruangan ibadah berisi lebih kurang 30 muda mudi yang sudah bersiap bernyanyi diiringi beberapa pemuda yang memainkan alat band. Namun suasana hujan diluar ditambah alat pendingin membuat ruangan terasa beku seolah mereka tak bersuara tenggelam oleh hentakan suara band yang keras.
Kemudian majulah seorang gadis muda menggantikan rekannya berdiri di podium, dengan suara yang keras dan wajah bersinar penuh keceriaan gadis muda yang bernama Kezia itu mengajak semua muda mudi berdiri, menyanyi lebih keras, bertepuk-tangan, bergerak aktif dan bervariasi, suasana kaku sontak berubah hangat, penuh semangat dan ceria.

Pada pertengahan abad ke-enam di China, saat itu dua kelompok pasukan dari dua kerajaan besar sedang bertempur. Sebulan sudah mereka berperang hingga kelelahan dan memasuki masa gencatan senjata setelah peperangan yang memakan korban ribuan orang mati dan ratusan terluka.
Pada suatu malam seorang jenderal bernama Shiaw Kwan dari kerajaan Chou sedang membahas strategi perang di sebuah tenda bersama beberapa panglima lainnya serta seorang penasehat tua. Salah satu laporan buruk yang diterima Shiaw Kwan yang membuatnya kecewa adalah terdapat sejumlah prajurit yang patah semangat dan ingin pulang ke kampung halaman.

Menjelang pagi, si penasehat tua mengajak Shiaw Kwan keluar sejenak dari tenda untuk menghirup udara segar. Sembari duduk di antara rerumputan basah karena hujan dan dinginnya malam, Shiaw Kwan mengambil beberapa kayu mencoba menyalakan api namun kayu-kayu yang basah karena hujan itu tak kunjung terbakar.
Si penasehat tua menyuruh seorang pengawal mengambil beberapa kayu bakar kering yang ada di salah satu tenda dan menyalakan api. Dalam waktu singkat kayu-kayu kering itu terbakar menghangatkan tubuh mereka.
“Sekarang masukkan kayu-kayu basah itu kedalam api unggun ini” kata si penasehat tua itu, dan ketika Shiaw Kwan memasukkan potongan kayu basah itu kedalam api unggun, maka kayu-kayu basah itu pun dengan mudah ikut terbakar dan membara.

“Kumpulkan pasukan yang memiliki semangat dan daya juang tinggi, pimpin mereka, kobarkan semangatnya kemudian masukkan para prajurit yang loyo kedalamnya, maka mereka semuanya akan membara seperti api unggun ini.

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Leave a Reply