Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

Archive for January, 2012

Reading time: 1 – 2 minutes

Yang pertama :

Tentang cerita seorang peneliti yang datang ke kota yang paling maju di India. Di sana masih ada tradisi pembakaran pengantin wanita yang tidak bisa membayar mas kawin. Setiap hari pasti terjadi hal seperti itu. Dan di sana sudah dianggap hal yang biasa. Kalau di papan-papan kecelakaan lalu lintas di India, tertulis jumlah korban kecelakaan yang terjadi di jalan-jalan yang berbahaya, tapi jumlah pembakaran wanita tidak pernah diberitakan.

Peneliti tersebut menayangkan hasil rekamannya di acara oprah tersebut..dan memang benar-benar mengerikan. Biasanya kalau keluarga pihak pria mengalami kebangkrutan, atau pihak keluarga wanita kurang/tidak bisa melunasi mas kawinnya, maka si istri akan dibakar hidup-hidup di dalam rumahnya. Ada yang meninggal, tapi ada juga yang selamat (berhasil menyelamatkan diri) … tapi keadaannya sangat menderita… Mereka yang selamat, datang ke rumah sakit… dan tidak pernah memberikan alasan yang sebenarnya.. . karena kalau mereka berani bicara, maka mereka / keluarganya akan dibunuh. Karena itu, alasan yang mereka berikan, pasti kecelakaan di dapur… kompor meledak, dan sebagainya.. tidak pernah mereka bisa berterus terang.. mereka takut. Read the rest of this entry »

Originally posted 2010-03-30 08:43:27.

Stagnan, Jumlah Akseptor KB

Posted by admin On January - 29 - 2012ADD COMMENTS

Reading time: < 1 minute

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia merupakan salah satu negara yang menyepakati tujuan milenium (MDGs) dengan target 5b berupa peningkatan jumlah prevalensi kontrasepsi (CPR) dari 57,4 persen menjadi 70 persen di tahun 2015.

Sayangnya Indonesia cenderung stagnan, karena dalam 5 tahun terakhir jumlah privalensi kontrasepsi hanya naik 1 persen. Saat ini tiga provinsi yang memiliki CPR terendah adalah Papua 24,5 persen, .Maluku 29,4 persen, dan Papua Barat 37,5 persen.

Secara nasional, bahkan unmet need (akseptor yang tidak terlayani) meningkat dari 8,1 persen menjadi 9,3 persen. Kurangnya dana menjadi salah satu alasan tidak terlayaninya kebutuhan calon akseptor.

Data dari BKKBN menyebutkan, alokasi anggaran nasional untuk KB tahun 2009 sebesar Rp 1,2 triliun dan naik jadi 2,3 triliun tahun 2010. Akan tetapi jumlah itu dinilai masih jauh dari kebutuhan anggaran KB sebesar Rp 3,6 triliun per tahun.

Originally posted 2010-11-10 07:00:20.

10 Kualitas Pribadi yang Disukai

Posted by admin On January - 27 - 2012ADD COMMENTS

Reading time: < 1 minute

1. Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang.
Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.
Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari
alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih
ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan
begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
Read the rest of this entry »

Originally posted 2007-03-12 10:41:39.

Just For The One I Love

Posted by admin On January - 25 - 2012ADD COMMENTS

Reading time: < 1 minute

I want somebody who loves me
Through thick and thin
He adores me just like I adore him
Someone that I’m longing to see

Our love will grow together
We’ll be holding hands through the rocky road
Everything will be smooth and easier
Simply because we love each other all the way Read the rest of this entry »

Originally posted 2007-04-26 10:22:49.

Perokok Indonesia Terbesar Ketiga Dunia

Posted by admin On January - 23 - 2012ADD COMMENTS

Reading time: 1 – 2 minutes

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia masih menduduki peringkat ketiga untuk jumlah perokok di dunia, yakni sekitar 65 juta orang. Angka ini akan terus meningkat jika pemerintah tidak mengatur perilaku merokok dan industri rokok serta tidak menerapkan larangan iklan rokok.

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Laksmiati Hanafiah, ketika ditemui Kompas.com, Sabtu (2/10/2010) di sela-sela Aksi Damai Sehat, Cerdas dan Berprestasi tanpa Rokok yang digelar di Citywalk Sudirman, Jakarta.

Menurut perempuan yang akrab disapa Mia itu, usia para perokok di Indonesia lebih banyak pada kisaran 15 hingga 19 tahun. “Di antaranya 70 persen dari jumlah perokok itu adalah masyarakat kalangan menengah ke bawah,” katanya.

Akibatnya, lanjut Mia, para orangtua dari kalangan tersebut kurang memperhatikan gizi anak-anak mereka. “Uang yang harusnya untuk beli makanan, ternyata dihabiskan untuk membeli rokok,” ujarnya.

Sekjen Komnas Pengendalian Tembakau, Suhardi, mengatakan, kalangan perokok dari masyarakat berpendidikan rendah dan keuangannya menengah ke bawah kurang begitu memperhatikan kalimat peringatan bahaya merokok.

“Sebaiknya di dalam bungkus rokok, terdapat peringatan dengan gambar. Contohnya, gambar penyakit yang ditimbulkan akibat rokok, seperti stroke dan kanker,” kata Suhardi.

Dia mengungkapkan, negara tetangga sudah mencoba menerapkan peringatan merokok melalui gambar.

“Malaysia, Singapura, dan negara-negara lain telah mempraktikkannya. Terbukti, jumlah perokok di beberapa negara itu justru mengalami penurunan 15-20 persen,” ujarnya.

Originally posted 2010-11-09 15:59:35.

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.