Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

“Apakah yang sedang saya bangun saat ini ?”.

Posted by momoy On December - 9 - 2013  Email This Post Email This Post    | 

This post has already been read 3265 times!

Di awal bulan Juni 2007 ini adalah saat yang paling luarbiasa dalam hidup
saya. Saya telah memutuskan untuk memulai karir saya bukan dari kantoran
tapi dengan bekerja menjadi wirausaha mandiri. Dimana saya bisa menjadi
Manager atau Direktur tanpa harus bekerja di kantor.

Sebelumnya saya tidaklah pernah membayangkan bahwa jalan hidup saya akan
maju ke titik sejauh ini. Sejak kecil saya berjuang di sekolah untuk menjadi
yang terbaik dan sering menjadi yang pertama. Di sekolah saya menghabiskan
waktu ribuan jam belajar dan melahap buku-buku agar lulus dan bisa memulai
karir saya di perusahaan yang besar. Impian ini adalah impian standar
seorang pelajar kala itu. Lidah ini akan berdecak kagum kalau mendengar ada
seorang alumni yang diterima di sebuah perusahaan swasta besar

Begitu tamat SMK, saya diterima bekerja di sebuah koperasi milik perusahaan
yang saat ini sangat besar di Indonesia. Saya merasa mimpi saya hampir
tercapai. Sambil bekerja sayapun kuliah dengan harapan bisa mendapatkan
pekerjaan dan posisi karir yang lebih baik lagi. Sampai selesai kuliah dan
masih tetap bekerja di perusahaan yang sama.
Sampai akhirnya saya menikah dengan pria yang saya cintai, kami tinggal di
sebuah rumah kontrakan kecil, 2 tahun kemudian dengan modal nekat kami
membangun rumah mungil tetapi sudah milik kami sendiri karena saat itu kami
diberikan kepercayaan oleh Allah untuk memiliki bayi perempuan yang cantik.
Saya tetap bekerja untuk bisa terus meniti karir agar saya bisa
mempersiapkan bekal untuk masa depan anak saya tercinta.

Begitu juga dengan suami saya bekerja tambah keras untuk memenuhi kebutuhan
keluarga yang tambah meningkat. Pagi-pagi kami sudah berangkat ke kantor dan
pulang sudah menjelang magrib. Tagihan kartu kredit mulai berdatangan,
pengeluaran mulai lebih besar daripada pendapatan. Saya hubungi teman-teman,
ternyata problem mereka juga sama. Ada yang mulai lompat dari satu
perusahaan ke perusahaan lain. Namun problem mereka tidak hilang. Problem
keuangan menjadi gejala pasangan muda.

Tiap hari saya berikan dedikasi dan loyalitas tinggi kepada perusahaan yang
sangat baik kepada saya. Saya mencintai setiap detik waktu yang saya
lewatkan di perusahaan ini. Saya terus bekerja sampai tak terasa sudah ada
sepuluh tahun saya bekerja disana dan saya pun baru saja melahirkan seorang
anak yang ketiga di bulan Mei lalu. Suami saya tercinta mulai mengingatkan
kembali… ntah sudah yang keberapa kalinya dia mengingatkan agar saya bisa
mulai memikirkan anak-anak, meninggalkan pekerjaan kantor. Namun karena
desakan ekonomi dan orang tua yang tetap ingin agar saya bekerja. Makanya
saya tetap bertahan kerja sampai sekarang. Disela-sela waktu cuti melahirkan
sekarang ini, saya melakukan pemikiran balik. Pemikiran yang sangat mendasar
sekali. “Apakah yang sedang saya bangun saat ini ?”. Pergi pagi dan pulang
petang penghasilan pas-pasan sering disebut P7, sebenarnya saya mengerjakan
apa ?. Umur saya sudah bergeser melewati 30 tahun, dan apa yang sedang saya
garap hari ini ?. Bagaimana kalau umur saya bergeser melewati 40 tahun, dan
apa hasil dari garapan saya ini. Lalu kalau usia saya mencapai 50 tahun,
apakah yang akan saya capai nanti ?. Adakah ‘sesuatu’ yang saya miliki ?.

Perjuangan apakah yang sedang saya garap saat ini sehingga saya menukar
dengan milik saya yang paling berharga di dalam hidup ini ?. Saya memberikan
WAKTU dan NYAWA saya yang hilang di muka bumi ini untuk mengerjakan apa ?.
Yang Maha Kuasa memberikan sekian puluh tahun agar saya bisa hidup dan
bermakna di atas dunia dan telah memberikan anak-anak yang saya cintai, tapi
apakah yang sedang saya lakukan sekarang ?.

Kalau saat ini saya berusia 60 tahun, maka pemimpin perusahaan besar ini
juga berusia sama dengan saya. Mereka membangun industrinya selama puluhan
tahun dengan susah payah bersama karyawannya. Dan mereka nanti bisa
memberikan saham milik mereka sebagai warisan kepada anak-cucunya.
Perusahaan besar ini adalah milik mereka dan mereka punya HAK untuk
mewariskannya. Hak apakah yang saya punya untuk diwariskan kepada anak saya
yang saya cintai ini ?.
Apakah anakku yang saya kasihi ini bisa langsung diterima kerja ditempat
perusahaan besar ini nanti ?. Ah tidak mungkin.

Posisi ini tidak bisa diwariskan. Saya dulu datang ke perusahaan ini dengan
tangan kosong dan keluar dengan beberapa lembar kertas dan uang saku. Tidak
ada cerita soal warisan. Perusahaan ini memang sangat baik hati, tapi saya
sedang menukar WAKTU dan NYAWA saya tanpa ada yang saya bawa keluar dari
sini.

Saya dapat cerita dari suami saya, dimana ada seorang Bapak yang sudah lebih
dari 20 tahun memberikan USIA dan NYAWA-nya disebuah perusahaan swasta. Dia
akan pensiun sebentar lagi, dan apakah yang dia bisa berikan kepada
anak-anaknya ?. Tidak ada !. Anak-anaknya harus memulai berjuang dari bawah
lagi untuk bisa sekedar hidup seperti ayahnya sedang hidup. Saya bertanya
lagi, apakah saya sedang mengarahkan agar anak-anak saya nanti mengikuti
perjuangan saya dari bawah ?. Pergi pagi pulang petang demi gajian bulanan
yang pas-pasan ?. Tidak adakah yang bisa saya lakukan sehingga anak-anak
saya tinggal melanjutkan suatu bangunan yang saya kerjakan di hari ini ?.

Saya pernah ditanya oleh suami saya tahukah kunci kenapa orang tidak bisa
sukses ? Ini didapatkan dari temannya bahwa “Kunci kenapa orang tidak bisa
sukses adalah karena mereka tidak tahu kapan mereka mati !”. Kalau kita tahu
bahwa kita akan mati 30 hari, apakah yang akan kita lakukan ?. Apakah kita
memakai waktu 30 hari itu untuk jungkir balik di kantor mengejar prestasi ?.

Ataukah kita malahan memakai waktu sisa itu untuk diberikan kepada
orang-orang tercinta di dunia ini yaitu keluarga kita ?.
Saya berpikir bahwa itu benar adanya, memang hidup kita tidak akan pernah
tahu kapan akan berakhir, tapi Saya tidak mau menghabiskan NYAWA saya
puluhan tahun untuk membangun bisnis yang tidak akan pernah saya punya.
Sebesar apapun perusahaan itu kelak, saya tidak punya hak selembar sahampun.
Namun saya akan memakai setiap detik WAKTU yang terlewat untuk membangun
bisnis saya sendiri, dan pada akhirnya saya memiliki HAK untuk memberikannya
pada anak yang saya cintai. Anakku tidak akan pernah berjuang memulai dari
bawah lagi, anakku hanya tinggal melanjutkan, dan dia akan memberikan bisnis
yang lebih besar lagi kepada cucuku. Saya akan menanam, anakku yang merawat,
dan cucuku yang akan membesarkan, dan keturunanku lah yang menikmatinya.
Saya tidak akan membangun bisnis orang lain, saya akan membangun milik saya
sendiri.
Di bulan Mei 2007 saya mengikuti saran yang diberikan oleh suami saya. Saya
mulai mendaftarkan diri untuk bisa mulai memiliki bisnis sendiri. Saya juga
membaca buku bagaimana menjadi momtrepreneur… akhirnya saya mulai
memutuskan kalau di bulan Juni nanti saya akan mengikuti saran suami saya.

Saya dikenalkan dengan perusahaan besar dari Malaysia yang sedang mencari
wirausaha mandiri di Indonesia yang bernama Revell Global yaitu salah satu
bisnis jaringan terbesar di Malaysia dan bisnis jaringan ini adalah
satu-satunya jalan untuk bisa memulai bisnis dengan modal kecil dan usaha
keras maka akan bisa mendapatkan hasil yang besar sesuai usaha kita. Inilah
bisnis yang akan mulai saya miliki sendiri. Saya akan menjadi momtrepreneur,
dimana saya tetap bisa menentukan seberapa besar income yang bisa saya raih
dalam setiap bulannya. Jadi saya di rumah tidak sekedar menjadi “bendahara”
keuangan suami, tetapi saya bisa memerankan semua aspek manajerial seperti
di dalam suatu perusahaan. Sayapun akan tetap menjalankan fitrah sebagai
istri dan ibu. Saya akan pakai WAKTU dan NYAWA saya untuk membangun
bisnisnya. Dan kelak saya memiliki hak luarbiasa untuk memberikan semuanya
kepada keluarga yang sangat saya cintai.

Saya dengan dukungan dari suami membangun Momtrepreneur Bisnis secara online
dan offline dengan alamat web http://www.momtrepreneur.biz dimana dengan web
tersebut saya juga ingin memberikan solusi dan bantuan kepada anda para
wanita khususnya kaum ibu yang sudah terbuka pikirannya atau yang sependapat
dan senasib dengan saya… memulai ke arah yang lebih baik untuk bisa
menjadi momtrepreneur. Mari kita bersatu melalui Momtrepreneur bisnis ini
saling membantu dan bekerja sama untuk bisa memberikan yang terbaik untuk

keluarga kita tercinta. Mari kita menghabiskan waktu dan nyawa kita untuk
memulai Momtrepreneur bisnis ini. Tidak ada seorangpun yang bisa mengambil
hak tersebut dari kita, dan kita nanti bisa wariskan semuanya kepada anak
yang kita kasihi.
Hari ini saya menulis sebuah curahan hati kepada anda semua. Apa yang sedang
anda kerjakan hari ini ? Apakah anda membesarkan perusaaan anda, atau anda
membesarkan perusahaan orang lain ?. Anda saat ini memberikan milik anda
yang paling berharga di tempat ini, yaitu WAKTU anda. WAKTU adalah jatah
nyawa anda di muka bumi.

Kalau anda adalah seorang pegawai, luangkanlah waktu anda untuk memulai
bisnis milik anda sendiri. Anda tidak perlu keluar saat ini dari kantor
anda. Hanya mulailah untuk membangun milik anda sendiri menjadi seperti yang
saya lakukan melalui Momtrepreneur Bisnis. Kalau anda tidak suka bisnis
jaringan, kerjakan bisnis yang lain. Asalkan itu adalah milik anda sendiri.
Bangunlah warung nasi di pinggir jalan, buatlah pendidikan ketrampilan, dan
segala kreativitas lain. Mulailah menkonsentrasikan waktu anda untuk
memperbesar perusahaan anda. Kelak ketika menghadapi badai ekonomi, anda
tidak akan perlu takut terhempas dari pekerjaan rutin anda saat ini.
Tinggalkanlah ketergantungan kepada orang lain, yaitu perusahaan anda saat
ini. Mulailah tergantung kepada Tuhan dan diri sendiri. Salah satu kunci
kebangkrutan bangsa kita ini adalah karena tergantung pada utang yang
diberikan bangsa lain. Bila pemimpin bangsa ini rela melepaskan
ketergantungan ini dan mulai dari bawah dengan mandiri, maka di masa depan
kita akan masih punya harapan.
Saya tidak ingin menjadi tua tanpa memiliki apapun yang dibanggakan. Saya
masih punya banyak waktu untuk berjuang dimasa depan bersama anda dan
jaringan Momtrepreneur Bisnis. Dan seandainya Tuhan berkenan memanggil saya
nanti, saya sudah memiliki hak berharga untuk menjaga keluarga saya
selama-lamanya. Mulai sekarang Saya akan gunakan waktu dan nyawa saya di
dunia ini dengan sebaik-baiknya. Sekarang adalah waktunya – The Time is Now
!

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Leave a Reply