Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

The Power Nonviolence

Posted by momoy On July - 17 - 2014  Email This Post Email This Post    | 

This post has already been read 3336 times!

Dr. Arun Gandhi, cucu dari Mahatma Gandhi dan pendiri M.K. Gandhi Institute for Nonviolence pada kuliahnya di Universitas Puerto Rico, berbagi cerita berikut sebagai contoh kekuatan anti-kekerasan dalam mendidik anak: “Aku berumur 16 tahun dan tinggal dengan orangtuaku di satu institut yang didirikan kakek yang terletak sejauh 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Daerah ini terpencil, terletak di tengah-tengah kebun tebu dan tak ada tetangga di sekitar kami, karenanya, aku dan kedua saudara perempuanku selalu mencari kesempatan untuk pergi ke kota entah untuk mengunjungi teman-teman ataupun pergi menonton bioskop. Suatu hari, Ayah memintaku untuk mengantarkannya ke kota untuk konferensi satu hari penuh, dan tentu saja aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Karena tahu aku akan ke kota, ibuku memberikan daftar belanjaan yang ia butuhkan dan karena akan seharian di kota, Ayah memintaku juga untuk melakukan beberapa pekerjaan yang belum sempat dilakukan dan setelah selesai memperbaiki mobil di bengkel langganan kami.
Ketika sampai di tempat pagi itu, Ayah berkata, ‘Nanti kita bertemu di sini jam 5 sore, dan kita akan pulang ke rumah bersama-sama’
Setelah menyelesaikan tugasku secepatnya, Aku langsung pergi ke gedung bioskop terdekat untuk menonton film kesukaanku. Begitu terpukaunya aku pada film John Wayne yang aku tonton sehingga aku lupa waktu. Ketika teringat, waktu sudah jam setengah enam sore. Dengan tergesa-gesa, aku segera pergi ke bengkel mengambil mobil dan langsung tancap gas ke tempat Ayah menungguku, ketika sampai di sana, hari sudah mulai gelap, saat itu sudah hampir jam 6 sore.
Dengan cemas Ayah bertanya kepadaku, ‘ Mengapa engkau terlambat?’ Aku begitu malu untuk memberitahu dia bahwa ini terjadi karena begitu asyik menonton John wayne. Akhirnya aku berkata, ‘ Mobilnya belum siap, sehingga aku harus menunggu’ tanpa mengetahui bahwa Ayah sudah menelepon bengkel itu dan mengetahui bahwa mobil sudah siap pada waktunya. Ketika ia tahu bahwa aku berdusta, ia berkata, ‘Tampaknya ada sesuatu yang salah dalam caraku mendidikmu sehingga engkau tak punya cukup keberanian untuk berkata jujur. Aku perlu mencari tahu dimana Aku salah dalam hal ini, untuk itu aku akan berjalan kaki sejauh 18 mil ke rumah untuk memikirkan hal itu.” Kemudian, masih dengan pakaian dan sepatu kerjanya, ia mulai berjalan ke rumah di kegelapan melalui jalan yang sebagian besar tidak rata dan tanpa lampu. Tentu saja aku tak bisa meninggalkannya, karenanya, selama lima setengah jam aku berjalan dibelakangnya, mengamati Ayahku menjalani penderitaan hanya karena dusta bodoh yang aku lakukan. Sejak saat itulah aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah berdusta lagi. Aku sering berpikir tentang episode itu dan membayangkan, jika seandainya Ia menghukum aku dengan cara kita menghukum anak kita, apakah aku akan meperoleh pelajaran atau tidak, aku pikir tidak. Aku mungkin menderita karena hukuman tetapi akan kembali melakukan hal yang sama lagi. Tapi karena satu tindakan tanpa kekerasan yang begitu berpengaruh, hal ini terus membekas di hati seakan baru kemarin terjadi….. itulah kekuatan dari tindakan tanpa-kekerasan

Dr. Arun Gandhi

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Comments are closed.