Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

Hati-hati : PENYEKAPAN DAN PERAMPOKAN DALAM ANGKOT

Posted by admin On October - 23 - 2014  Email This Post Email This Post    | 

This post has already been read 5165 times!

Ternyata perampokan dan penyekapan terjadi bukan hanya dalam taxi tapi juga dalam angkot. Setelah saya pernah mengalami 2 kali percobaan hipnotis pada tahun 2005 dalam angkot 09 (Wr jambu – Sukasari) dan angkot Cicadas-Gn putri namun ke duanya tidak berhasil (walau sudah mencengkram bahu saya – karena saya ambil sikap siaga, berdoa, dan lekas2 turun dr angkot), kejahatan dlm angkot kembali saya alami. Selama 1,5 jam saya disekap dalam angkot, diancam dengan belati, dibekap, dan dirampok dalam angkot 08 (Ps Anyar-Citeureup) bersama korban lainnya seorang Ibu berusia 50 thnan oleh 4 orang laki-laki dan dicampakan ke sebuah tanah kosong – rawa2 di daerah Sentul.

Kejadian itu terjadi pada hari Selasa 6 Februari 2007, ketika saya akan pergi ke suatu kegiatan rohani di Gedung Lautan – Bogor. Waktu itu menunjukkan pukul 19.29 menit saya tiba di seberang RS Salak Bogor, walau jarak yang dekat ke Gd Lautan karena saya tidak ingin ketinggalan acara tsb dan enggan melewati pohon beringin, tempat gelap disekitar Jl Sudirman saya naik angkot dengan harapan lebih cepat dan aman. Kebetulan ada angkot 08 (Ps Anyar – Citeureup) yang menawarkan “ Langsung!! Langsung!!”

Naiklah saya kedalam bagian tengah angkot tsb, bbrp saat kemudian ketika sampai ditujuan saya berkata “ Kiri!!kiri!!” sampai 3x namun angkot tetap saja melaju, kemudian pria yg duduk disamping kanan saya dgn segera menutup pintu angkot dengan keras dan berteriak “INI PERAMPOKAN”. Gebrakan pintu yang sangat keras dan teriakan membuat jantung saya berdebar. Saking kagetnya saya dan seorang Ibu (penumpang lain) sama2 berteriak menyebut nama Tuhan. Pria disamping kiri saya langsung membekap mulut saya dan mendorong sampai saya bersujud di lantai persis dibawah kaki pria tsb sampai terus menekan2 kepala saya ke arah lantai, demikian jg dengan pria yang ada didepan saya memperlakukan hal sama pada seorang Ibu. Pria tsb kemudian mengancam “ TERIAK AKAN KAMI BUNUH” dengan logat Batak. (3 pria berlogat batak – 1 pria (sopir) tidak diketahui logatnya karena jarang berbicara).

Ibu kemudian menangis, saya berdoa sejenak sambil bersujud menahan dengan kedua tangan agar kepala saya yang di tekan2 tdk terantuk di lantai angkot. Kemudian saya berusaha berkata dengan lembut dan setenang mungkin “ Abang orang baik tolong jangan lukai kami” Pria itu langsung membentak “ (Cacian kotor) Saya perampok mana ada perampok orang baik!!” saya kembali berbicara “ Abang… sejahat2nya orang, sejelek2nya orang pasti ada sisi baiknya, pasti abang juga begitu. Abang tolong Abang ingat Ibu Abang, Istri Abang, Adik perempuan dan anak perempuan Abang.”

Saya sengaja menggunakan sebutan Abang agar pria2 tsb tdk terlalu asing dengan kami.

Salah satu dari pria itu kemudian teriak “ Makanya kau jangan macam2, macam2 kalian ku bunuh!”

Kemudian salah dari mereka mengaduk2 isi tas kami, dan dua orang lainnya berusaha mempreteli perhiasan kami, sopir tetap dengan santainya menyetir. Saya kembali berbicara perlahan “ Abang boleh ambil semua barang yang kami punya, tapi tolong jangan lukai kami. Tuhan Yesus mengasihi Abang, Tuhan Yesus pasti sangat sayang sama Abang. Saya yakin dan percaya pasti Abang jg diberkati oleh Tuhan Yesus” Lalu diantara mereka jg berkata “ Kami bisa saja bunuh kalian atau perkosa” Masih dengan posisi bersujud dengan tangan yang menahan lalu saya berusaha menyembah Tuhan dengan tenang dan perlahan “Ku sembah Kau Allahku Bapa dan sahabatku Engkau yang pedulikan seluruh hidupku…. walau lewati lembah aku tak ditinggalkan Yesus kekuatan dihidupku…” Pria itu berkata “(Cacian kotor) Apa?? Menyanyi saja kau!! Jangan macam2!!”

Ibu sambil menangis terus berdoa dan istigfar. Ketika dia memegang tangan saya untuk mengambil cincin segera saya berikan cincin dan demikian jg dengan anting2 segera saya berikan untuk memberikan kesan yang tidak memberontak – kooperatif dan dari pada saya digerayangi oleh pria2 itu. Ketika dia memegang leher berusaha mencari kalung “ Mana kalung kau??? Aku lihat kau tadi pakai kalung!!” Saya jawab “ Kalung mana bang?” Dia marah “ Mana serahkan kalung kau!!” Untuk berdalih dan meminimalisir barang yang diambil saya dengan nada yang rendah dan bersabar menjawab “ Abang cari kalung ini? Abang kalau mau kalung ini silahkan abang ambil…, tp kalung ini tidak ada harganya dan mainan buat Abang” sambil saya menunjukkan kalung platina, kemudian dia jawab “ Ya sudah!!” Negosiasi pertama selesai.

Ibu jg berusaha meminta kembali giwangnya, ibu meminta dengan panik dan sambil menangis sehingga membuat marah dan memperlakukan ibu dengan kasar menarik topi kerudung ibu sampai menutup hidungnya, sampai beliau sulit bernafas… hmm kasian Ibu L Saya cuma bisa menenangkan Ibu, kami berduapun berpelukan dilantai angkot.

Saya lalu bilang “ Abang silahkan ambil Hp saya, tp tolong simcardnya jangan, biar saya bisa menghubungi teman2 nanti” Lalu pria itu jawab “ Nih” sambil memberikan simcard saya dan milik Ibu. Puji Tuhan selesai nego yang kedua.

Mereka akhirnya minta nomor PIN dari ATM kami. Karena Ibu menjawabnya dengan terbata2 dan menangis mereka kembali memperlakukan Ibu dengan kasar. Ketika meminta nomor PIN saya berikan, namun untuk PIN yg kedua tidak saya berikan dengan harapan dia sudah puas dengan menggasak ATM saya yang pertama, saya bilang “ Coba saja PIN saya untuk ke2 ATM tersebut”

Salah satu dari pria itu kemudian turun di ATM Mandiri. Sementara kami terus disekap dan diajak berputar-putar, kami harus terus menunduk tdk boleh melihat jalan. Kami terus berpelukan, saling melindungi. Saya sengaja selalu menutup muka saya dengan rambut. Salah satu dari perampok itu kembali membuka dompetku ketika melihat foto dalam dompet dia berkt “ Ini wajah Kau?? Ini Wajah Kau??” saya jawab “ Iya Bang” Kemudian hal yang menjijikkan, dia membelai2 foto saya.

Karena Ibu menangis minta giwangnya kembali dan minta diturunkan perampok itu marah menodong kami dengan belati “ Kubunuh!! Kutusuk Kau!!” Pria yang lain menjawab “ Sudahlah Lae jangan terburu2”

Pria yang berhasil menggasak ATM Mandiri, kemudian mencari ATM BCA. Kami kembali berputar-putar. Ketika kembali dia marah karena ATM yang satu tidak berhasil dia gasak, akhirnya karena diancam saya akan dibawa terus dan dimaki-maki dengan cacian kotor akhirnya saya berikan PIN ATM saya yang ke dua.

Setelah berhasil menggasak ATM akhirnya kami menuju sebuah tempat. Sebelum diturunkan masing2 kami disisakan uang Rp 30.000 untuk ongkos. Saya dan Ibu dicampakkan disebuah rawa-rawa yang gelap terdapat ilalang dan tanah yang luas lebih dari satu hektar di daerah sentul pada pukul 21.00 dengan tetap berulang kali dibawah ancaman “ KALAU TERIAK AKAN SAYA BUNUH”.

Setelah Ibu melakukan sujud syukur, kami pun dengan tergopoh-gopoh dan saling bergandengan mencari rumah penduduk untuk menolong kami, saya sebenarnya ingin langsung pulang bersama Ibu namun kami dibawa oleh penduduk ke Polsek dan Polres Sukaraja untuk diproses dan dibuatkan BAP. Proses dikepolisian sungguh melelahkan selesai sampai dengan pukul 24.30. Kami sudah stress dan lemas karena penyekapan selama 1,5 jam kemudian harus menghadapi pertanyaan dari beberapa kelompok polisi yang pertanyaan itu2 saja dan diulang-ulang (1 kelompok di Polsek dan ada 3 kelompok di Polres), malah kami harus mengahadapi polisi yang salah satu diantaranya Polisi yang super jutek dan galak, menambah lelaaah kami.

Di Polres kami disana tidak bisa terlalu banyak memberikan informasi mengenai pelaku, jalan2 yang kami lalui, dan angkot yang digunakan karena sepanjang penyekapan kami harus selalu tertunduk menghadap lantai dan sering sekali kepala kami ditekan, sementara mata ibu tertutup oleh topi kerudungnya. Info yang bisa diberikan hanya salah satu diantara mereka selalu memaki dengan cacian kotor (alat vital pria), itu sering diucapkan pada kami dan diawali hampir pada setiap kalimat yang diucapkannya terkesan ucapan itu sulit untuk dikendalikan karena sdh menjadi kebiasaan.

Saya jg berusaha untuk mendengarkan percakapan mereka dengan harapan salah satu diantara mereka keceplosan menyebutkan nama temannya, namun itu sulit dilakukan karena sepanjang perjalanan jika mereka berbincang selalu menggunakan bahasa Batak dan di antara mereka saling memanggil nama “LAE” atau “LE”. Namun polisi jg masih berusaha mencari tahu apakah mereka asli Batak atau suku lain yang belajar bahasa Batak. Selain dari itu mereka jg seperti tidak mengenal banyak daerah Bogor, karena mereka bertanya di mana Ciheuleut dan Gunung Putri, tapi entahlah apakah itu hanya sandiwara atau tidak. Dan yang jelas diantara mereka itu gaptek, tidak tahu bagaimana mematikan HP dan MP3 player milik saya diambil sedangkan chargernya dikembalikan padahal saat mereka bertanya sudah saya katakan itu charger USB tp mereka katakan “ alaah USB apaan”. Namun ada satu orang yang saya rasa dia adalah leader dari komplotan tersebut, dia paling “pintar” – mengatur kawan-kawannya – mengetahui sedikit banyaknya mengenai masalah Bank – dan yang menggasak uang di ATM.

Berdasarkan informasi dari polisi kejadian seperti itu sudah 4 kali terjadi di Bogor khususnya angkot 08, malah utuk korban lainnya terjadi pelecehan seksual dan dipukuli sampai babak belur karena memberikan PIN yang salah. Dari satu kejadian itu saja perampok berhasil menggasak sampai puluhan juta dari kerugian yang kami derita. Namun lepas dari itu saya tetap mengucap syukur karena kami tidak dilukai karena keselamatan jiwa lebih berharga dari segalanya, dan saya pun tidak memendam amarah dan kepahitan terhadap mereka, karena hidup ini singkat, sayang jika harus diisi dengan perasaan seperti itu. Saya juga semakin yakin dan tidak meragukan penjagaan Tuhan yang luar biasa didalam hidup ini, karena saya percaya sehelai rambut yang jatuh pun tidak luput dari Tuhan. Tp besar harapan saya buat Pak Polisi “ Tolong donk Pak, diberantas para tindak kriminal agar masyarakat merasa tentram”

Saran buat temen2 hati2 dalam memilih angkot, jika mengalami (amit.. amit 3x) tindak kejahatan tetap berusaha bersikap tenang karena selain membuat jiwa kita lebih tentram – dengan bersikap panik dan histeris penjahat bisa gelap mata dan melakukan tindakan nekad, dan yang paling penting berdoa ya J

Ibu Hajah, walau kita baru kenal karena kejadian tersebut makasih ya kalau ibu telah mengingat saya sebagai anak Ibu mendekap dan melindungi saya. Dan saat itu jg saya mengingat Ibu sebagai Orang Tua saya sehingga kita boleh saling menopang serta melindungi. Hari kamis, 8 Feb 2007 saya menelpon Ibu, beliau masih shock dan sering menangis, yang kuat dan tabah ya bu… Temen2 rombongan COOL semuanya makasih bwt perhatiannya, kedatangannya di Polres memberi support – menjemput – mengantarkan saya & Ibu Hj yang saat itu msh dilanda trauma selamat sampai ke rumah kami masing2.

Salam Hangat,

Ana Restu

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Leave a Reply