Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

This post has already been read 5035 times!

SOLO, KOMPAS- Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi Solo menggagas perlunya Hari Bapak setelah selama ini dikenal adanya Hari Ibu dan Hari Anak. Menurut Ketua Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi Solo Gress Raja, gagasan perlunya ada Hari Bapak, bukan karena “iri” bahwa ada Hari Ibu tetapi tidak ada Hari Bapak, melainkan pemikiran bahwa bapak sebagai bagian dari keluarga juga tidak boleh diremehkan perannya. “Bapak, ibu, dan anak melambangkan keutuhan keluarga. Masyarakat kita sebenarnya penuh dengan simbol. Mengapa ada Hari Ibu, karena kita mengganggap perlu mengenang jasa ibu lewat Hari Ibu. Kalau kemudian tidak ada Hari Bapak, jangan-jangan ini berarti selama ini kita kurang menghargai bapak atau orang tua secara keseluruhan. Bapak dan ibu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kita butuh keduanya sebagai keseimbangan kesadaran kita sebagai anak,” papar Gress, Minggu (8/10).Ihwal pemilihan nama Hari Bapak dan bukan Hari Ayah, menurut Gress, karena kata bapak lebih bernuansa umum, sedangkan ayah lebih merujuk kepada laki-laki yang mempunyai anak. Asal muasal muncul ide Hari Bapak sendiri, menurutnya sederhana, yakni aat perayaan Hari Ibu beberapa tahun lalu.“Saat itu kami menyelenggarakan lomba menulis surat untuk ibu. Selesai acara, para peserta justru bertanya, kapan ada lomba menulis surat untuk bapak. Setelah itu, kami jadi tertarik untuk berpikir lebih dalam, mengapa tidak dirayakan Hari Bapak,” jelasnya.

Rencananya, Hari Bapak akan diperingati tiap 12 November. Tahun ini di Kota Solo, peringatannya akan dilakukan di Balaikota yang diiringi dengan deklarasi Hari Bapak. “Ada satu anggota kami pada tanggal yang sama juga akan menggelar acara yang sama di Maumere, Flores,” sebutnya.

Di seluruh dunia, Hari Bapak atau Father’s Day diperingati pada tanggal yang berbeda-beda. Di berbagai negara, seperti Argentina, Amerika Serikat, Kanada, China, Belanda, Pakistan, Turki, Singapura, Filipina, Afrika Selatan, dan Hongkong SAR, Hari Bapak diperingati pada hari Minggu ketiga bulan Juni. Lain lagi dengan Belgia, Italia, Portugal, dan Spanyol yang memperingatinya setiap tanggal 19 Maret. Masih ada lagi sejumlah tanggal lainnya.

“Semula kami pilih dekat Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pendidikan. Tapi nanti khawatir akan tenggelam. Lalu kami pilih tanggal 12 November dan secara tidak sengaja bertepatan dengan Hari Kesehatan. Ini sekaligus mengandung harapan agar bapak dan seluruh keluarga terus diberi kesehatan yang baik, jasmani dan rohani,” jelasnya.

Dalam peringatan nanti, akan dibacakan 10 dari 100 surat terbaik yang dibuat anak untuk bapaknya. Buku kumpulan surat tersebut bersama teks deklarasi Hari Bapak rencananya juga akan dikirimkan kepada Presiden RI serta bupati di empat penjuru Indonesia, yakni di Sabang, Merauke, Sangir Talaud, dan Pulau Rote.(eki)

 

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Leave a Reply