Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2 other subscribers

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

HIDUP SEHAT ALAMI

Posted by momoy On October - 11 - 2015  Email This Post Email This Post    | 

This post has already been read 6930 times!

KITA boleh iri melihat sosok Dr Tan Tjiauw Liat. Bukan hanya fisiknya yang
segar, sehat, dan lincah (tinggi 167 cm/berat 59 kg) tapi daya ingatnya juga
luar biasa. Selama wawan­cara dua setengah jam, ia membuka lebih dari 10
buku, di antaranya How To Use Glutamine to Strengthen the Immune System,
Improve Muscle Mass & Heal the Digestive Tract, The Anti-aging Zone, dan
Water Cures: Drugs Kill untuk menunjukkan latar belakang pendapat­nya.
Buku-buku tersebut hanya sebagian kecil dari koleksi buku yang berjajar rapi
di dalam lemari bukunya.

Saya benar-benar kagum pada dokter berusia 76 tahun itu. la bukan hanya
ingat warna cover buku, judul, atau tempat buku itu disimpan, melainkan
hafal di luar kepala isi buku-buku itu. Mulai dari alinea, kalimat, yang
sudah diberi dua garis dengan tinta merah, sampai kata per kata!. Luar
biasa….

Buku-buku, jurnal-jurnal kesehatan, news­letter, baginya merupakan harta
yang tak terni­lai. Ketika banjir melanda Jakarta tahun 2002, rumahnya di
bilangan Pluit tak luput dari ben­cana. Anak-anaknya khusus menyewa truk dan
jukung untuk mengevakuasinya, namun Dr Tan tetap bertahan hanya mengungsi ke
ru­mah tetangganya. la enggan beranjak dari rumahnya. “Lantaran buku-buku
saya masih di dalam,” katanya. la hanya minta dibawakan sayuran mentah
sebagai menu makannya.

Senjatanya: tomat dan mentimun

Pukul 15.00 saat mewawancarai Dr Tan di tempat praktiknya di Pluit, tampak
beberapa pasien yang mengalami stroke mulai berda­tangan. Beberapa pasien
harus dipapah atau didorong di kursi roda, untuk sampai ke ruang praktik.
Pria berkacamata yang sore itu menge­nakan kemeja putih lengan pendek itu
lang­sung berdiri dan membuka pintu kamar prak­tiknya. Dengan suara yang
nyaring yang meru­pakan ciri khasnya, ia menyapa para pasien dan
memperkenalkan mereka kepada saya.

“Ini pasien saya yang sudah berumur 100 tahun. Nah, bapak yang itu tadinya
stroke berat, sekarang sudah bisa jalan. Pasien yang duduk di kursi roda itu
otaknya sudah dibedah di rumah sakit. Waktu datang tidak berdaya sama
sekali, tetapi setelah saya anjurkan makan tomat dan mentimun, kondisinya
jauh lebih baik,” ujarnya sambil menunjuk ke arah pasien­-pasien yang
dimaksud. Mereka tampak ceria, dan mengatakan bahwa gairah hidupnya kembali
setelah dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Dr Tan.

Dulu ‘kapal keruk’

Dokter Tan mengaku kesadaran akan pentingnya hidup sehat, tumbuh sejak lima
tahun terakhir ini. “Sedari kecil saya doyan makan. Kalau sedang ada
perayaan Cap Go Meh, Nenek menyediakan berbagai macam makanan enak. Tentu
saja saya ‘sikat’ sampai perut saya keras kekenyangan, ” tuturnya.

Kebiasaan makan enak itu terus berlanjut sampai ia bersekolah di Jakarta .
“Waktu itu saya indekos di Jalan Raden Saleh. Dalam waktu 3 bulan, berat
badan saya bertambah 13 kg,” katanya. Sampai ia berkeluarga, ia belum bisa
mengerem kebiasaannya itu. “Saya sering makan di hotel berbintang lima yang
memberi diskon 50% untuk paket makan sepuasnya (all you can eat) Saya pikir,
kapan lagi bisa makan enak dengan harga murah? Di sana saya bisa ngopi dan
makan sepuasnya,” tutur Dr Tan mengenang kebiasaannya ketika ia berusia 60
tahun.

Bukan Dr Tan namanya jika berbicara tanpa data. Dari lacinya, ia
menge­luarkan selembar foto diri saat bobotnya 80 kg. Penampilannya sama
sekali berbeda dengan sosok yang berada di depan saya!

Namun setelah itu badannya mulai terasa tidak nyaman. Pada waktu berjalan,
misalnya, dadanya terasa sesak. “Padahal saya rajin mengukur tekanan darah,
dan hasilnya normal, 120/80,” katanya.

Pada satu kesempatan berkunjung ke Australia menengok seorang anaknya yang
bersekolah di sana , ia mendatangi seorang dokter. Dari pemeriksaan yang
dilakukan oleh dokter itu, diketahui tekanan darahnya melesat sampai 180.
“Dokter menyuruh saya minum obat. Tetapi saya bilang, NO!. Saya katakan
kepadanya, saya akan kembali tiga bulan lagi, dan saya pasti sudah sembuh,”
ujarnya.

Pulang dari dokter, ia langsung ngeloyor ke toko buku mencari buku
kesehatan. “Saya tidak mau sakit, saya ingin panjang umur. Nah, sejak itu
saya gandrung membaca buku-buku mengenai kesehatan,” katanya.

Sekolah di Internet

Latar belakang pendidikannya sebagai dokter lulusan FKUI tahun 1958 dan
spesialis radiologi sangat mendukung keinginannya untuk menemukan kunci
hidup sehat. Penguasaannya terhadap bahasa Inggris, Belanda, dan Mandarin
secara aktif memudahkannya membaca dan menyerap ilmu kesehatan dari berbagai
sumber.

“Sampai sekarang saya masih belajar dan terus belajar. Sekolah saya
Internet. Media cybernet atau penjelajahan situs-situs Internet yang dapat
dipertanggung­ jawabkan, semakin memperluas wasasan saya,” ujarnya sambil
menyebut situs favoritnya:
www.mercola. com.

Hampir setiap hari ia duduk di depan laptop-nya dari pukul 23.30 sampai
pukul 05.00, mencari berita kesehatan yang aktual. Dengan demikian, ia tidak
pernah ketinggalan informasi. Sebelum duduk di depan laptop, ia selalu
melakukan meditasi terlebih dahulu dengan bantuan CD yang berisi suara
gemercik air hujan. “CD tersebut dipakai untuk meningkatkan kemampuan fokus.
Sudah setahun lebih saya menggunakan CD untuk meditasi,” ujarnya. Gadget IT
milik orang kantoran masa kini adalah mainannya di usia kepala tujuh. la
mahir mengoperasikan komputer dengan segala programnya, merekam dengan USB,
sms dijawab melalui PDA-nya dengan kecepatan anak muda, mengirim faksimili
pun dilakukannya sendiri.

Ada apa dengan tomat dan mentimun?

Hasil bacaan dan penelusuran di alam maya itulah yang menelurkan gaya hidup
dan pola makan yang diterapkannya sekarang.

“Unsur genetika spesies manusia yang dibawa DNA-nya pada kenyataannya tidak
pernah berubah sejak zaman purba hingga kini; bahkan di masa mendatang,”
katanya. Yang berbeda adalah yang ada di sekeliling kita, sebagai hasil dari
kecerdasan manusia dan olah teknologi. Ini yang mempengaruhi cara hidup
manusia dan cara mengelola hidup termasuk makanannya, serta bagaimana tubuh
bereaksi terhadap apa yang dikonsumsi.

Gen (pembawa sifat keturunan yang terdapat pada inti sel) adalah rangkaian
gugusan DNA yang tidak mungkin mengalami perubahan dalam waktu singkat.
Perubahan pada struktur gen membutuhkan waktu ribuan tahun lamanya akibat
paparan (ter-expose) oleh lingkungan yang juga telah berubah dalam kurun
waktu sekian lama.

Banyak bukti antropologis (bukan hanya dari sisi medis) yang menjelaskan
bahwa penyakit yang muncul saat ini adalah sebagai akibat pola makan, gaya
hidup, dan paparan lingkungan. Yaitu karena manusia sudah jauh melenceng ke
luar dari rel sebagaimana alam.

Hidup di zaman sekarang tidak bisa terlepas dari polusi, dan kepungan
penyakit yang membuat kita mudah sakit. Bagaimana mengantisipasinya?
“Pertama insulin harus dikontrol, dan yang kedua pola makan kita harus
mengikuti pola makan manusia purba. Manusia purba tidak mengenal api,
apalagi kompor dan microwave. Segala sesuatu dikonsumsi secara mentah (raw)
dan segar (fresh). Dengan asupan serupa ini tidak heran tubuh akan jauh
lebih tahan terhadap segala sesuatu,” tuturnya.

Lalu, untuk apa ada restoran? “Restoran itu suatu kebudayaan (civilitation) .
Itu bukan untuk kesehatan kita. Jika untuk kesehatan, kita harus balik ke
DNA kita. Kita hanya makan dedaunan atau sayuran mentah. Tidak ada cara
lain. Kalau tidak demikian, pasien saya pasti gagal semua….,” katanya
dengan lantang.

Sayur mentah satu baskom

Dokter Tan, tidak hanya cuap-cuap memberi nasihat kepada pasien-pasiennya
agar mengkonsumsi sayuran mentah untuk mengobati stroke yang mereka derita,
tetapi dalam keseharian ia benar-benar mempraktikannya dengan disiplin.
“Pukul 6 pagi saya makan buah. Buah yang ada dalam simpanan saya. Kalau ada
apel ya itu saja yang dimakan, tapi bukan buah manis tinggi fruktosa seperti
pepaya, pisang atau mangga ranum,” katanya.

Menurutnya, dari tengah malam sampai jam 12.00 terjadi siklus pembuangan,
sebaiknya perut tidak diisi dengan makanan berat. “Siang hari saya makan
sayur mentah. Banyaknya satu baskom (mangkuk besar) yang ditambah jahe,
kunyit, masing-masing ukuran satu jari, dan satu siung bawang putih. Semua
bahan itu dimasukkan ke dalam juice-extractor- bukan blender atau juicer
biasa. juice extractor ini mempunyai putaran mesin hanya 30 rpm sehingga
tidak menimbulkan panas di atas 30 derajat Celsius, dan ekstraksi mineral
terjamin sempurna. Selain itu saya juga makan satu kuning telur mentah
organik yang jelas bebas bakteri,” katanya. Siang itu sayur yang memenuhi
baskomnya terdiri dari brokoli, selada, paprika kuning, tomat, dan mentimun
yang dipotong-potong. la adalah pelaku raw-food yang setia dan me­ngerti
betul dasar latar belakang mengapa makanan yang disantap harus raw alias
men­tah. Bahan makanan dari tanaman yang me­mungkinkan dimakan mentah dan
enzim (katepsin) yang terkandung dalam sayuran mentah itulah yang
menghancurkan diri sendiri (self destruct) agar komponennya dapat dise­rap
pencernaan kita sebagai sumber gizi. Sedangkan sayuran lain yang biasanya
perlu dimasak (misalkan kangkung, bayam, kailan, caisim, diambil ekstraknya
melalui juice extractor.

Makan sayur mentah saja, apakah tidak lapar? “Tentu saja tidak, karena
komposisi sayuran saya bermacam-macam, kondisi ini menjamin” plant-based
food” tetap prima sebagai sumber kalori dan energi. Masih di­tambah bawang
bombai, aneka sprouts (se­jenis taoge). Kalau masih lapar saya menggado
tomat dan mentimun,” katanya.

Masih makan kedondong

Dengan berbagai pengetahuan yang dimilikinya kini Dr Tan sangat hati-hati
mengkonsumsi makanan maupun minuman. la tidak lagi minum kopi kendati dulu
disukainya. “Kalau orang setua saya minum kopi sekali, berarti terbentuk
kortisol dalam waktu 24 jam. Kortisol akan bertumpuk jika kita terus
mengkonsumsi kopi. Jika sudah demikian, segala macam penyakit akan datang.
Misalnya, kita jadi pikun,” katanya.

Air putih adalah minuman terbaik, karena dapat menggelontor lemak-lemak
tubuh. Seberapa banyak kita minum air putih per hari? “Ukurannya yaitu
sampai urine kita tidak berwarna. Urine yang sehat adalah yang bening
seperti air ledeng, tidak boleh berwarna,” katanya.

la juga mengingatkan bahwa kita harus waspada terhadap bahaya gula.

“Batasi makanan yang mengandung gula seperti beras, terigu, kentang,
umbi-umbian, serta wortel (yang dimasak sebagai sup atau dijus). Wortel yang
dijus akan menjadi air gula. Artinya kalau kita minum jus wortel sama dengan
kita minum air gula. Segala buah yang manis juga mengandung gula. Pemanis
dalam bentuk artifisial, seperti aspartam, sakarin, lebih berbahaya daripada
gula,” katanya.

Jika demikian, buah apa yang baik? Ditanya demikian ia tersenyum. “Buah yang
baik adalah alpukat dan kedondong. Gigi saya sudah habis. Agar saya bisa
makan sayur mentah, kedondong, mangga muda, dan pepaya muda, semua gigi
sudah diganti dengan teknologi implant. Bukan karena keropos, tapi
kebanyakan karena kecelakaan di masa lalu, zaman masih menunggang scooter.
Oh ya, mangga muda, pepaya muda (bukan yang sudah ranum dengan tinggi kadar
fruktosanya) baik dimakan,” sambungnya.

Menularkan pola hidup sehat

Dengan mengubah pola makannya, Dr Tan merasa badannya nyaman dan lebih
energik. Bobot tubuhnya pun proporsional dengan tingginya. la berhasil
menurunkan berat badannya 21 kg dari berat semula 80 kg. Bukan hanya itu,
daya ingatnya pun semakin tajam. “Waktu kuliah dulu, kalau ada teman yang
menyebut suatu masalah, saya langsung ingat masalah itu dibahas di buku apa,
halaman berapa. Nah, di usia saya sekarang ini, daya ingat saya kembali
seperti itu.

Temuan-temuan ini ditularkan kepada pasien-pasiennya.

“Mereka saya anjurkan makan tomat dan mentimun. Saya perhatikan, hanya dalam
waktu tiga hari atau seminggu, kondisi kesehatan mereka mengalami kemajuan.
Mengapa? Karena sayuran mentah adalah makanan yang sesuai dengan DNA kita,”
katanya.

Kepada pasien-pasiennya, Dr Tan tidak pernah memberi obat-obatan kimia.
Bilamana perlu ia hanya memberikan satu suntikan untuk memperlebar pembuluh
darah. “Pembuluh darah pasien stroke sering bermasalah,” demikian alasannya.
Di samping itu, ia juga mengaplikasikan teknik meridian melalui titik-titik
akupuntur. Ilmu tersebut dipelajarinya antara lain dari sebuah buku keluaran
Bayer dan banyak buku asli tentang meridian dan akupuntur dari bahasa dan
sumber aslinya yaitu bahasa Mandarin. Bahasa itu justru baru dikenalnya
sebagai orang Tionghoa ketika Jepang masuk dan bahasa Belanda dilarang.

Tidak merepotkan orang lain

Sekarang ini Dr Tan masih sering ke hotel bintang lima untuk makan, tapi ia
lebih cerdik. “Saya pilih light lunch, ya murah, ya sehat. Saya bisa makan
salad sesuka saya,” katanya.

la sangat yakin, apabila setiap orang mau menjaga diri dan merawat diri, ia
akan mendapatkan kesehatan yang prima, yang memperpanjang usia hidup aktif.
“Dampaknya tentu sangat positif, yang jelas kita tidak merepotkan diri
sendiri di usia lanjut dan tidak tergantung pada pasangan, anak-anak, atau
orang-orang di sekitar kita. Saya mempunyai tujuan mempertahankan hidup yang
berkualitas demi kemanusiaan dengan mempraktikkan kejujuran serta kebenaran
untuk tujuan tersebut,” tuturnya.

“Sekarang saya punya konklusi yang jelas sekali, yaitu dengan mengikuti
DNA – hanya makan sayur, selanjutnya dikombinasi dengan quantum touch- pasti
akan sehat seumur hidup.”

Bagaimana dengan bermacam-macam diet yang digembar-gemborkan sekarang ini?
“Omong kosong! Ndak bisa itu! Pokoknya paling baik hanya mengkonsumsi
sayuran mentah. Yang lain dilupain aja, deh,” ujarnya. Ekstrim? Tentu begitu
kesan pertamanya. Tapi bagaimanapun, komitmen dan disiplinnya untuk sehat
sangat mengagumkan. (N)
Dr. Tan Tjiauw Liat

Oleh: Emma Madjid
(Majalah Nirmala, April-2007)

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Leave a Reply