Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

Archive for the ‘Daily Bread’ Category

Jangan Hidup Menyendiri

Posted by admin On March - 7 - 2012ADD COMMENTS

Reading time: 2 – 4 minutes

Ibrani 10:24-25
Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 115; 2 Petrus 2; Yehezkiel 33-35

Cuaca sangat lembab dan berangin saat aku membantu seorang teman menanam bunga musim semi di kebunnya.

”Tanamlah berdekatan,” pintanya, “tanaman ini akan bertumbuh dengan lebih baik jika ditanam seperti itu.

Aku meneruskan menanam bunga putih itu dalam kelompok ditempat yang baru. Lalu aku merenung, “Bagaimana tanaman itu dapat bertahan melawan angin, hujan, dan terik matahari? Akankah mereka tumbuh lebih baik jika ditanam berdekatan?

Saat aku menengok kebun bunga temanku itu beberapa bulan kemudian, yang ditanam berdekatan, berbunga lebat dan bertumbuh lebih baik. Kedekatan membuat mereka subur! Mahluk hidup saling membutuhkan untuk dapat bertahan hidup dan terus bertumbuh.

Demikian juga kita sebagai orang Kristen, kita juga akan bertumbuh dengan baik jika kita hidup dalam sebuah komunitas, dimana kita dapat saling berbagi. Penulis kitab Ibrani pasti mengetahui dengan pasti kekuatan persekutuan. Ketika Anda berada di dalam komunitas, Anda akan menemukan dorongan dan motivasi untuk saling mengasihi dan berbuat baik. Saat angin dan badai kehidupan melanda, mencoba menghambat pertumbuhan dan mengacam Anda, maka komunitas sekitar Anda akan menguatkan dan dengan kasih Kristus Anda akan dapat bertahan melaluinya.

Pastikan diri Anda tidak hidup menyendiri, tinggallah dalam komunitas jika Anda ingin kuat dan terus bertumbuh ke arah kepenuhan Kristus.

Renungan terkait…
* Sahabat Sejati
* Di gendong oleh sahabat
* Persahabatan bagai kepompong
* You are the friend of God
* Are you Good Friend?


Originally posted 2010-11-09 01:23:58.

Kuasa Dalam Kelemahan

Posted by admin On February - 28 - 2012ADD COMMENTS

Reading time: 4 – 7 minutes

Ayat bacaan: 2 Korintus 2:9
===========================
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

Tumpukan pekerjaan bagaikan air bah yang membanjir tanpa henti. Rasanya begitu deras menerpa saya, sehingga saya merasa kelabakan untuk menyelesaikan semuanya. Satu beres, datang tiga lagi, dua beres, masuk enam lagi, kira-kira seperti itulah yang terjadi, dan saya pun gelagapan untuk menyelesaikan semuanya dengan sebaik-baiknya tepat waktu. Saya tidak pernah ingin kerja setengah-setengah, semua itu harus dikerjakan sebaik-baiknya, tetapi waktu sepertinya tidak mencukupi. Apakah saya satu-satunya orang yang sibuk setengah mati seperti ini? Ternyata tidak. Seorang teman yang berprofesi sebagai musisi jazz ternyata mengalami hal yang sama seperti saya.

Lewat sebuah situs jejaring saya berbincang-bincang dengan seorang musisi jazz yang baru menyelesaikan studinya di luar negeri. Dia adalah seorang anak Tuhan yang luar biasa. Hidup di dunia entertainment alias hiburan ternyata tidak membuatnya rusak. Ia tetap hidup setia dan taat kepada Tuhan. Tidaklah heran apabila karirnya meningkat sangat pesat meski ia baru saja kembali dari luar negeri beberapa bulan yang lalu. Tuhan memberkatinya secara luar biasa, sehingga dalam waktu singkat ia sudah mendapat kesempatan tampil di beberapa pertunjukan bahkan sudah membentuk grupnya sendiri. Berbagai kesempatan yang terbuka membuatnya sibuk melakukan berbagai persiapan. Belum lagi harus membagi waktu dengan keluarga dan tampil di beberapa kota yang berbeda dalam waktu singkat. Ia pun bercerita bahwa ia sempat “curhat” kepada Tuhan. “saya bersyukur buat berkat-berkat yang melimpah, tetapi di satu sisi saya merasa bahwa waktu untuk menyiapkan segalanya sangat kurang. Pekerjaan padat, waktu sedikit.. saya khawatir tidak maksimal.” katanya. Dan ia pun berdoa menyampaikan itu kepada Tuhan. Apa yang terjadi? Ia kemudian bercerita bahwa Tuhan menjawab dan mengingatkannya kalau semua itu Tuhan izinkan untuk terjadi agar dirinya menyadari betul bahwa semua itu merupakan karunia Tuhan dan bukan hasil jerih payahnya sendiri. “Tidak ada hak saya untuk bermegah diri.” katanya. Tuhan lalu mengingatkan teman saya lebih lanjut, “Bukankah selama ini dalam kelemahanmu Aku selalu menunjukkan pertolongan?” Dan ia pun merasa lega. Ia kemudian bisa mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin dengan tenang tanpa harus kehilangan sukacita. Waktu tidak berubah menjadi lebih lambat, pekerjaan tidak menjadi lebih ringan. Tetapi dengan percaya terhadap janji Tuhan, bahwa Dia akan selalu menunjukkan pertolongan, semua itu sanggup membuat beban yang kita pikul menjadi jauh lebih ringan.

Apa yang ia alami pernah pula dialami Paulus dalam keadaan yang mungkin jauh lebih berat. Memutuskan untuk bertobat lalu dengan giat mewartakan kabar keselamatan ternyata tidak membuat Paulus menjadi lebih nyaman. Justru pada saat seperti itulah ia mengalami begitu banyak masalah. Berbagai teror mental hingga penyiksaan kerap ia alami. Dalam surat 2 Korintus pasal 12 kita bisa melihat curhatan Paulus tentang apa yang ia rasakan. Ia tahu bahwa tidak ada hak apapun baginya untuk bermegah. Mendapatkan penglihatan, dipakai Tuhan dan menerima janji keselamatan kelak ketika ia berpulang tidak berarti bahwa ia bisa membanggakan atau menyombongkan dirinya. Paulus berkata “..atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.” (2 Korintus 12:6). Bangga akan kelemahan? Bagaimana mungkin? Apakah Paulus salah ucap? Tentu tidak. Paulus mengatakan lebih lanjut “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” (ay 7). Paulus pun kemudian berdoa kepada Tuhan dan meminta Tuhan mengenyahkan duri dalam daging atau utusan iblis itu daripadanya. Perhatikanlah bagaimana reaksi Tuhan selanjutnya. “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (ay 9). Di dalam kelemahan kuasa Tuhan justru akan menjadi sempurna. Mengapa? Karena seperti yang dikatakan teman saya tadi, justru dalam kelemahan itulah kita bisa mengerti akan sebuah konsep untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan dan bukan pada kekuatan diri sendiri atau sesama manusia lainnya. Dan mari saya tambahkan, saat-saat sibuk atau tertekan seperti itu adalah kesempatan untuk melihat betapa besarnya kuasa Allah, jauh melebih apapun yang ada di kolong langit. Being under pressure is just the perfect chance to see God’s miracles.

Firman Tuhan berkata “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Kepada orang-orang taat dan dipenuhi iman seperti ini dikatakan bahwa “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (ay 8). Seperti itulah janji Tuhan kepada kita. Masalahnya ialah, sampai dimana kita bisa mengimani hal ini? Fisik terkuras, stamina anjlok di saat sibuk seperti ini seharusnya tidak membuat kita semakin menjauh dari Tuhan. Inilah kesempatan bagi kita untuk menyaksikan sendiri kedahsyatan uluran tangan Tuhan. Ini kesempatan untuk merasakan secara langsung bagaimana luar biasanya ketika Tuhan menyatakan pertolonganNya. Berada dalam tekanan atau permasalahan hidup adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk menyaksikan bagaimana kuasa Tuhan akhirnya menjadi sempurna di dalam hidup kita.

Apakah ada di antara teman-teman yang merasakan sulitnya membagi waktu dan merasa sendirian melewatinya? Jika ada, ingatlah bahwa semua itu Tuhan ijinkan untuk terjadi pada diri kita agar kita bisa berhenti mengandalkan kekuatan diri sendiri atau orang lain tetapi sebaliknya kembali berpegang teguh kepada Tuhan, mengandalkanNya dalam setiap langkah yang kita lalui. Itu akan membuat kita tidak kehilangan sukacita meski dalam tekanan sekalipun. Meski kelabakan dalam menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk, janganlah lupa bahwa semua itu merupakan berkat dari Tuhan yang seharusnya disikapi dengan penuh rasa syukur. Dan betapa baiknya Tuhan yang masih berjanji untuk senantiasa menolong kita dalam melakukan semuanya. Tidak saja kita mendapatkan berkat dariNya, tetapi dalam kesibukan itu kita juga mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana luar biasanya ketika kuasa Tuhan menjadi sempurna di atas kelemahan dan keterbatasan kita.

Tekanan adalah kesempatan untuk melihat bagaimana kuasa Tuhan menjadi sempurna

Originally posted 2010-11-09 01:24:00.

Menanam Benih Hingga Tumbuh

Posted by admin On February - 22 - 2012ADD COMMENTS

Reading time: 4 – 7 minutes

Ayat bacaan: Markus 4:26
==================
“Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah”

menanam benihKecintaan istri saya yang baru saja tumbuh terhadap tanaman membuat saya mulai mengamati berbagai jenis tanaman termasuk cara menanam dan mengurusnya. Ada tanaman yang harus ditaruh di luar rumah, ada pula yang bisa diletakkan di dalam ruangan. Ada yang dibeli dengan kondisi sudah bertumbuh lumayan besar, ada pula yang dari benih. Saya melihat istri saya terlebih dahulu merendam benih di air panas lalu setelah beberapa saat memindahkannya ke dalam gelas plastik kecil yang sudah diisi dengan tanah. Ketika ia mulai melihat tunas mencuat dari dalam tanah, saya pun menyaksikan kegembiraan dan rasa puas terpancar dari wajahnya. Tidak semua memang berhasil tumbuh. Ada yang mengeluarkan tunas tetapi tidak sedikit pula yang gagal.

Menarik melihat bagaimana Yesus mencoba menyederhanakan pengertian mengenai Kerajaan Allah untuk diajarkan kepada orang banyak lewat perumpamaan mengenai menanam benih. Yesus memulainya dengan “Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah.” (Markus 4:26). Agar sebuah tumbuhan bisa tumbuh, tentu terlebih dahulu kita harus menanam atau menaburkan benih. Tidak akan ada tanaman yang bisa tumbuh tanpa berawal dari benih. Inilah yang sering menjadi titik permasalahan utama. Ketika kita mengeluh mengapa kita tidak kunjung bertumbuh lebih baik dari hari kemarin kita sering terburu-buru menyalahkan Tuhan. Padahal masalahnya ada pada kita. Kita mengira dan terus membiarkan Tuhan untuk menghasilkan pertumbuhan pada kita. Prosesnya bukanlah seperti itu. Kita harus memulainya dengan menanam benih, kemudian menyiram, memupuk dan mengurusnya terlebih dahulu. Kemudian dari sana kita akan mulai bertunas dan pada akhirnya dengan ketekunan kita akan mampu memperoleh berkat-berkat Tuhan yang membuat kita subur dan terus berbuah sepanjang musim. Baik dalam keadaan suka maupun duka, keadaan bahagia atau sedang menghadapi masalah, apabila benih yang kita tanam bertumbuh subur dan rimbun, maka tidak ada hal apapun yang bisa menghentikan kita dari terus berbuah. Kuncinya adalah satu: benih.  Benih itulah nantinya yang akan bertumbuh sehingga Kerajaan Allah bisa turun atas diri kita saat ini juga, tidak perlu menunggu hingga kita dipanggil Tuhan terlebih dahulu.

Ada banyak orang yang salah kaprah dan mengira bahwa Tuhan akan memberikan itu semua meski mereka tidak serius berbuat apa-apa. Mereka hanya duduk diam bermalas-malasan bagai menunggu durian jatuh. Ini sebuah konsep yang salah. Kita harus menyadari betul bahwa Tuhan tidak bekerja UNTUK kita, tetapi bekerja DENGAN kita. Ada perbedaan yang nyata di antara kedua hal ini. Bekerja DENGAN kita, itu artinya kita harus melakukan sesuatu. We have to do our part and then we let God to do His part.

Ketika Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah itu seperti layaknya orang menanam benih, itu artinya ada sebuah proses kontinu yang harus kita lakukan mulai dari proses menanam, memupuk, menyiram, mengurus hingga merawat sampai tanaman itu tumbuh sehat dan subur. Pertama-tama tentu kita harus memulainya dengan menanam atau menabur benih firman dalam iman. Kita harus mulai mencari dan mendapatkan janji-janji berharga Allah yang telah Dia nyatakan lewat firman-firmanNya, lalu mulai menanam itu semua di dalam hati kita, dalam diri kita. Lalu kemudian kita harus serius memupuk dan menyiramnya. Lewat apa? Lewat puji-pujian dan ucapan syukur kita. Lewat ketekunan kita mengisi diri kita dengan lebih banyak lagi firman Tuhan. Dengan merenungkan, memperkatakan dan melakukan. Semua itu perlu kita buat untuk memupuk dan menyirami tunas yang mulai tumbuh agar bisa semakin besar dan sehat.

Lalu seperti halnya tanaman manapun, akan selalu ada gulma atau tanaman liar yang tumbuh disekitarnya, yang akan mampu merebut nutrisi sehingga tanaman kita sulit bertumbuh secara baik. Semua ini harus kita cabut, bersihkan hingga ke akar-akarnya. Seperti apa gulma yang bisa menghambat pertumbuhan kita? Kebimbangan, ketakutan, kekhawatiran, putus asa, perbuatan-perbuatan dosa yang kita tolerir dalam hidup kita, berbagai perilaku negatif atau kebiasaan buruk, itu semua akan menjadi tanaman liar atau gulma yang bisa menghambat laju pertumbuhan kita. Semua itu haruslah dibersihkan sampai tuntas, dan lakukan sejak dini sebelum mereka semua bertumbuh semakin subur dan menghancurkan kita.

Perhatikanlah bahwa perumpamaan yang diberikan Yesus ini sungguh luar biasa tepat. Dalam bentuk yang sangat sederhana kita akan mampu mengerti bagaimana kita bisa memperoleh Kerajaan Allah untuk turun dan terjadi atas kita sejak ketika kita masih berada di dunia ini. Dari perumpamaan ini jelas kita lihat bahwa untuk memperoleh itu semua dibutuhkan usaha keras yang serius, butuh kerajinan dan ketekunan. Tidak ada orang yang berhak berharap untuk memperoleh tanaman subur tanpa melakukan apa-apa bukan? Seperti itu pulalah proses yang seharusnya kita lakukan agar benih firman yang kita tanam bisa menghasilkan buah-buah yang manis untuk hidup kita dan orang-orang lain di sekitar kita. Kita harus terus mengawasi lahan di mana kita menanam, memastikan bahwa tunas itu bisa bertumbuh tanpa gangguan tanaman-tanaman liar dan hama, dan terus berusaha untuk memberi pupuk, menyiram dan merawatnya. Hanya dengan melakukan itu barulah kita bisa mengharapkan hasil yang baik. Apa yang dijanjikan Tuhan jelas.Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar. (Mazmur 92:15). Siapa yang bisa memperoleh janji ini? Ayat sebelumnya menyebutkan demikian: “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.” (ay 13-14). Orang-orang benar, orang-orang yang benar-benar melakukan sebuah proses serius dan berkesinambungan, orang-orang yang tidak berpangku tangan melainkan mau sungguh-sungguh menabur/menanam benih, menyiangi, menyirami, memupuk secara teratur. Orang-orang seperti itulah yang akan mampu menghasilkan buah yang gemuk dan segar bahkan hingga masa tuanya. Dan semua itu tidak akan terpengaruh oleh musim atau keadaan lingkungan sekitar. Sekali lagi, ingatlah bahwa Tuhan bukan bekerja untuk kita. Dia bekerja DENGAN kita. Mari lakukan bagian kita, dan percayakan Tuhan untuk melakukan bagianNya.

Seperti kita menabur benih, demikianlah Kerajaan Allah bertumbuh dalam hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/henlia

Originally posted 2010-11-12 00:29:41.

TOLONG!

Posted by admin On February - 14 - 2012ADD COMMENTS

Reading time: < 1 minute

January 12, 2007

Help!

READ: Psalm 46

God is our refuge and strength, a very present help in trouble. —Psalm 46:1
 
People are supposed to call 911 for emergencies only, but many people don’t understand or follow the rule. Police emergency operators in Colorado Springs have received calls from people reporting a TV set that wasn’t working, asking when it was going to stop snowing, and wanting to report an identification theft while they remained anonymous. Read the rest of this entry »

Originally posted 2007-01-12 09:31:57.

TARIAN LEBAH

Posted by admin On February - 10 - 2012ADD COMMENTS

Reading time: < 1 minute

May 15, 2007
The Waggle Dance
READ: John 4:27-36

Come, see a Man who told me all things that I ever did. —John 4:29
How do bees lead one another to nectar? Scientists say it's all about the "waggle" dance. The theory was regarded with skepticism when it was first proposed by Nobel Prize-winning zoologist Karl von Frisch in the 1960s. But now, researchers in the United Kingdom have used tiny radar responders attached to worker bees to support von Frisch's theory. They've confirmed that the bee orients its body toward the food source and uses the intensity of its waggle dance to signal the distance to other bees. Read the rest of this entry »

Originally posted 2007-05-15 10:58:45.

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.