Spiritual Reflections

Kita tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, kita melihat hal hal itu sebagaimana keadaan kita

  • Selamat Datang


    Anda bisa temukan kisah kehidupan, dalam keluarga, cinta, relijius, motivasi, renungan, kisah dan cerita yang bisa menggetarkan jiwa, memberikan semangat dalam hidup ini serta segala hal yang bisa berarti dalam hidup ini.
    Mungkin karena kesibukan kita sehari-hari hingga kita melupakan sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan, disini mungkin akan anda temukan hal-hal seperti itu.
    Hargailah waktu anda dan berikan yang terbaik untuk diri anda dan orang-orang yang anda cintai. (17/10/2006)

  • Subscribe to Blog via Email

    Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

  • .

    Click here to Enjoy Reading
  • Categories

Archive for the ‘Daily Bread’ Category

Jadilah Padaku Menurut Kehendak-Mu

Posted by admin On August - 10 - 2015ADD COMMENTS

Lukas 1:38
Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 82; Lukas 3; Yeremia 7-8

Pernahkan Anda membayangkan kondisi yang dialami oleh Maria saat itu? Gadis ini baru saja bertunangan, dan sebentar lagi akan menikah dengan seorang pria bernama Yusuf. Keduanya dikenal dari keluarga baik-baik. Namun di hari-hari mendekati pernikahannya dengan Yusuf, Maria mendapatkan pesan dari Tuhan yang disampaikan oleh malaikat bahwa ia akan mengandung dan melahirkan sang Juru Selamat.

Tentu Maria terkejut, baginya hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Kalaupun itu terjadi, dia tentu tahu akibatnya.Bayangkan, seorang gadis hamil diluar nikah. Dia mungkin membayangkan bahwa Yusuf akan memutuskan pertunangan mereka, dan kemungkinan paling buruk jika tidak seorangpun mempercayainya adalah dia di buang dari keluarga atau bahkan bisa dituduh melakukan perzinahan dengan hukuman rajam.

Namun sikap hati Maria sungguh luar biasa. Dia berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Maria tahu bahwa dirinya adalah hamba Tuhan, dan keberadaannya di dunia ini bertujuan agar kehendak Tuhan digenapi di bumi ini sama seperti di sorga, bahkan sekalipun karenanya ia harus menghadapi resiko terburuk.

Hari ini, apakah kita memiliki sikap hati seperti yang dimiliki oleh Maria ini? Hidup dalam kehendak Tuhan bukan berarti tanpa kesulitan dan tanpa resiko. Bahkan bisa dikatakan sangat beresiko. Jika Anda berani memikul salib itu, mari katakan, “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di dalam hidupku seperti di sorga.”

Melayani Tuhan menuntut seluruh hidup Anda, bersediakah Anda?

 

Yahoo MessengerWhatsAppLineBlogger PostDiggGoogle GmailLinkedInFacebookPlurkTwitterGoogle+FlipboardKakaoPrintInstapaperShare/Bookmark

Gelisah

Posted by admin On June - 22 - 2015ADD COMMENTS

Ayat bacaan: 1 Petrus 5:7
===================
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

gelisah, cemas, khawatir, takutPernahkah anda merasa gelisah dan cemas akan sesuatu? Jika pernah, tentu anda mengetahui betapa tidak enak rasanya ketika dihantui perasaan seperti itu. Makan tidak enak, tidur tak tenang, atau malah tidak ingin makan lagi dan tidak bisa tidur sama sekali. Berkeringat dingin dan mungkin ada pula yang mulai merasa mulas di perutnya karena merasa sangat gelisah. Hidup tidaklah mudah. Setiap saat kita bisa berhadapan dengan permasalahan yang akan membawa kita masuk ke dalam perasaan takut. Ketika persediaan dana menipis, ketika di kantor sedang ada pengerampingan jumlah karyawan, ketika krisis mulai terasa memberatkan hidup, ketika hidup terasa mulai berjalan semakin jauh dari yang kita impikan, ketika kondisi tubuh mulai terasa semakin lemah dan banyak lagi contoh hal yang bisa membuat kita merasa cemas, gelisah, khawatir, takut dan sejenisnya. Dan parahnya, sisi ini bisa menjadi celah yang sangat digemari iblis untuk membuat iman kita menjadi goyah. Iblis bisa berpesta dalam setiap kegelisahan dan kecemasan kita.

Sebenarnya tidak ada alasan bagi anak-anak Tuhan untuk merasakan hal-hal negatif seperti itu. Memang kita hidup di dunia yang sama, tetapi Tuhan sudah mengingatkan kita berulang kali untuk tidak merasa demikian. Lihatlah apa yang difirmankan Tuhan lewat Petrus berikut: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Ayat ini berbunyi singkat, padat dan jelas. Perhatikan Tuhan menyatakan bahwa kita harus menyerahkan SEMUA kekhawatiran kita. Segalanya. Bukan setengah, bukan sepertiga, bukan 90%, tetapi semuanya. Dalam bahasa Inggris kata kekhawatiran dirinci secara lebih jauh: “all your anxieties, all your worries, all your concerns, once and for all”. Semua ketakutan, kecemasan, kegelisahan, ketidaktenangan, segala yang membebani pikiran, sekali untuk selamanya. Mengapa kita boleh menyerahkan semua itu kepada Tuhan dan kemudian terbebas dari rasa-rasa negatif tersebut? Jawabannya pun jelas: sebab Tuhanlah yang memelihara kita. Bukan orang lain, bukan harta benda, bukan apapun yang ada di dunia ini, tetapi Tuhan sendiri. Dan kita tahu Tuhan punya kuasa yang tertinggi di atas segala-galanya yang ada.

Rasa khawatir bukan saja membuat kita tidak bisa maju, tetapi bisa pula menenggelamkan kita. Lihatlah sebuah contoh ketika Petrus berjalan di atas air. Pada mulanya imannya membuatnya mampu melewati batas logika dan kemampuan manusia. Ia bisa berjalan di atas air! (Matius 14:29). Tetapi apa yang terjadi selanjutnya? Petrus mulai merasa takut ketika angin mulai menerpa dirinya. Ketika rasa takut itu menguasai dirinya, imannya mulai goyah, lalu ia pun kemudian mulai tenggelam. (ay 30). Perhatikanlah, hal seperti ini sering terjadi bagi kita. Ketika masalah mulai datang menerpa dari segala arah seperti angin yang menerpa Petrus, kita pun bertindak sama sepertinya, membiarkan terpaan masalah itu menguasai kita dan menggantikan keyakinan kita kepada Tuhan. We tend to let our worries overcome us. Dan di saat itu terjadi, kita pun tenggelam. Apa tanggapan Yesus akan hal ini? Perhatikan ayat berikut: “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (ay 31). Dari ayat ini kita bisa melihat dengan jelas bahwa tenggelamnya kita bukanlah karena angin yang menerpa, tetapi karena kebimbangan kita. Kabar baiknya, dari ayat yang sama kita melihat pula bahwa Yesus mengulurkan tanganNya. Dia tidak membiarkan kita tenggelam dalam ketakutan-ketakutan kita. Dia mengulurkan tanganNya, siap mengangkat kita keluar. Dia siap untuk memerdekakan kita dari segala hal yang negatif, termasuk di dalamnya merdeka dari kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, kebimbangan, kegelisahan dan lain-lain.

Kita terbiasa takut terhadap begitu banyak hal, termasuk hari depan kita. Bagaimana kita mencukupi kebutuhan primer kita? Bagaimana hidup kita kelak atau bahkan esok hari? Yesus sudah menjawabnya. “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?” (Matius 6:31). Tidak pada tempatnya kita mengkhawatirkan hal-hal seperti itu. Bagaimana bisa? Jawabannya sangat indah:“..Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” (ay 32b). Tuhan yang sangat mengetahui segala kebutuhan kita, Dia tahu semua hal yang memberatkan pikiran kita dan membuat kita khawatir, dan Dia yang penuh kasih akan selalu siap untuk melimpahkan semuanya.

Mengetahui kebenaran, itu akan memerdekakan kita dalam segala hal, termasuk pula merdeka dari segala ketakutan dan kegelisahan yang melingkupi pikiran dan hati kita. Yesus mengungkapkannya seperti ini “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:32). Apa yang dimaksud Yesus ini bukanlah kemerdekaan setengah-setengah, ala kadarnya atau hanya berlaku pada satu-dua hal saja. Tetapi janji ini berlaku untuk memerdekakan kita secara menyeluruh, total dan sepenuhnya. Dan itu akan kita peroleh dari Kristus. “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (ay 36).

Adakah di antara teman-teman yang saat ini tengah dicekam kegelisahan atau kecemasan sehingga anda tidak bergairah untuk melakukan apapun lagi? Ingatlah bahwa Tuhan sudah meminta kita untuk menyerahkan SEGALA kekhawatiran itu kepadaNya. Lihat bahwa Tuhan tidak menjanjikan untuk mengambil kekhawatiran itu dari kita, melainkan kitalah yang diminta untuk memberikan semua itu kepada Tuhan. Jika anda menyerahkan segala perasaan negatif itu kepada Tuhan, Dia akan segera menggantikannya dengan sukacita. Kita tidak akan perlu memupuk rasa takut itu. Kita punya kesempatan untuk tenang, hidup damai dan penuh sukacita, karena Tuhan yang lebih besar dari segalanya itu, yang siap menerima semua ketakutan kita itu tidaklah jauh dari kita. Dia bahkan tinggal di dalam diri kita. Dia sanggup membuat kita berhasil, lepas dari segala permasalahan dan melimpahi kita dengan berkat-berkatNya. Karena itu lepaskanlah semua kekhawatiran anda, serahkan kepadaNya. Teruslah bertekun dalam keyakinan kepada Tuhan. Dan kita tidak akan perlu merasa cemas lagi.

Rest your worries on God

TARIAN LEBAH

Posted by admin On May - 21 - 2015ADD COMMENTS

May 15, 2007
The Waggle Dance
READ: John 4:27-36

Come, see a Man who told me all things that I ever did. —John 4:29
How do bees lead one another to nectar? Scientists say it’s all about the “waggle” dance. The theory was regarded with skepticism when it was first proposed by Nobel Prize-winning zoologist Karl von Frisch in the 1960s. But now, researchers in the United Kingdom have used tiny radar responders attached to worker bees to support von Frisch’s theory. They’ve confirmed that the bee orients its body toward the food source and uses the intensity of its waggle dance to signal the distance to other bees. Read the rest of this entry »

Doa Darurat

Posted by admin On April - 9 - 2015ADD COMMENTS

Daniel 6:11-24

Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

(Daniel 6:11)

 

Banyak orang berpaling pada Tuhan hanya pada saat-saat genting.

berdoa

Memang berdoa dalam keadaan darurat masih lebih baik daripada tidak berdoa sama sekali. Namun sesungguhnya tak ada bedanya apakah segala sesuatu sedang berjalan baik atau buruk. Doa harus menjadi bagian yang alami dari kehidupan sehingga doa-doa kita tidak bergantung pada keadaan sekeliling.

 

Bacaan Alkitab hari ini menggambarkan kebenaran tersebut. Musuh-musuh Daniel datang pada Darius, Raja Babel, dengan rencana jahat mereka. Mereka berupaya agar Darius menandatangani surat perintah yang tak dapat dicabut kembali berdasarkan undang-undang orang Media dan Persia. Dalam Daniel ketetapan itu disebutkan bahwa setiap orang yang dalam 30 hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa. Meski Daniel sudah mengetahui hal itu, “tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti biasa dilakukannya” (Daniel 6:11). Empat kata terakhir menjelaskan semuanya. Doa Daniel yang dipanjatkan saat berada dalam keadaan bahaya itu justru menunjukkan ketaatannya yang tak pernah goyah kepada Allah.

 

Walaupun Bapa menyambut baik permohonan kita di saat-saat darurat, Dia juga sangat senang mendengar doa-doa ucapan syukur yang kita panjatkan saat segala sesuatu berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, bagaimanapun keadaan Anda, baik pada hari yang baik atau hari yang buruk, jadikanlah doa sebagai bagian terpenting dalam hidup anda. Sudahkah anda berbicara dengan Allah hari ini?

Believing

Posted by momoy On April - 5 - 2015ADD COMMENTS

A young man who had been raised as an atheist was training to be an Olympic diver. The only religious influence in his life came from his outspoken Christian friend. The young diver never really paid much attention to his friend’s sermons, but he heard them often.
One night the diver went to the indoor pool at the college he attended. The lights were all off, but as the pool had big skylights and the moon was bright, there was plenty of light to practice by.
The young man climbed up to the highest diving board and as he turned his back to the pool on the edge of the board and extended his arms out, he saw his shadow on the wall. The shadow of his body was in the shape of a cross.
Instead of diving, he knelt down and asked God to come into his life. As the young man stood, a maintenance man walked in and turned the lights on. The pool had been drained for repairs.